Topeng Cirebon: Warisan Abadi dari Tanah Wali yang Sudah Mendunia

Artikel, Wisata60 Views

Topeng Cirebon: Warisan Abadi dari Tanah Wali yang Sudah Mendunia

Oleh :

Levi Ramadhan, Nisa Fadilah, Bellia Nani Nabila

Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H., M.H.

Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

 

Topeng Cirebon adalah sebuah karya seni pertunjukan yang telah mengakar kuat di wilayah Cirebon, sebuah kota yang dijuluki “Tanah Wali,” dan kini popularitasnya telah merambah ke panggung-panggung internasional. Dengan bentuk ukiran yang khas dan palet warna yang sangat mencolok, Topeng Cirebon tidak hanya berfungsi sebagai penutup wajah para penari, tetapi juga merupakan sebuah media pencerita sejarah, pembawa pesan moral, dan sekaligus pedoman hidup yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Keberadaannya menjadi simbol budaya yang sangat penting bagi masyarakat Jawa Barat bagian timur.

Sejarah kesenian Tari Topeng Cirebon diperkirakan sudah dimulai sejak periode kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, dan yang paling terkenal adalah kaitannya dengan masa penyebaran agama Islam di Jawa oleh para Wali Songo. Secara khusus, Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh sentral dalam penyebaran Islam, disebut-sebut memanfaatkan seni topeng ini sebagai cara yang sangat efektif dan menarik untuk mengenalkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat yang saat itu masih menganut kepercayaan lama. Awalnya, pertunjukan ini mungkin hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan di lingkungan keraton, namun seiring waktu, pertunjukan ini disebarkan dan diajarkan kepada masyarakat umum sebagai bentuk hiburan rakyat yang sekaligus mengandung nilai-nilai edukasi.

Dalam satu rangkaian pertunjukan tari topeng yang utuh, terdapat lima karakter topeng utama yang wajib dimainkan, yang dikenal dengan istilah Panca Wanda (Lima Rupa). Kelima topeng ini tidak dipilih secara acak, mereka dirancang untuk menggambarkan seluruh spektrum perjalanan hidup manusia dari sejak lahir hingga mencapai kedewasaan dan menghadapi berbagai tantangan batin. Karakter-karakter tersebut adalah Panji, Samba (Pamindo), Rumyang, Patih (Tumenggung), dan yang terakhir adalah Kelana. Setiap topeng memiliki ciri khas berupa ekspresi wajah, dominasi warna, dan gaya menari yang unik, yang seluruhnya merefleksikan tahapan dan sifat psikologis manusia.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai nilai-nilai dan bentuk fisik dari warisan pusaka ini, penulis mengambil kesempatan untuk melakukan observasi langsung di Museum Pangeran Cakrabuwana yang berlokasi di daerah Sumber, Kabupaten Cirebon. Museum ini berperan sebagai rumah penyimpanan koleksi penting budaya Cirebon, di mana puluhan topeng bersejarah dipajang secara rapi dan artistik. Di ruang pameran, topeng-topeng itu seolah menjadi saksi bisu sejarah panjang, siap menceritakan kisahnya masing-masing kepada setiap pengunjung yang datang dan mau merenungkannya.

Saat berada di tengah koleksi museum yang hening namun penuh makna, penulis berkesempatan berbincang santai dengan Adiyan, salah satu pengurus yang bertugas di museum tersebut. Adiyan membagikan banyak informasi berharga tentang arti di balik setiap guratan dan warna yang ada pada topeng-topeng Cirebon. Menurutnya, kesenian ini memiliki fungsi yang lebih dalam. “Topeng-topeng ini sebenarnya adalah gambaran atau cerminan dari hawa nafsu dan sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh manusia, baik itu sifat yang baik maupun yang cenderung buruk,” ungkap Adiyan dengan antusias.

Kemudian, Adiyan melanjutkan penjelasannya dengan berfokus secara spesifik pada karakter topeng yang paling agresif dan mencolok, yaitu topeng Kelana (yang dalam beberapa literatur juga disamakan dengan Rahwana). Topeng ini sangat mudah dikenali karena didominasi oleh warna merah terang, memiliki bentuk wajah yang tampak sangar, mata yang melotot tajam, dan dihiasi kumis tebal yang memberikan kesan garang. Topeng Kelana ini selalu menari dengan gerakan yang paling energik dan penuh amarah.

Mengenai warna dan ekspresi topeng Kelana, Adiyan memberikan penekanan khusus pada maknanya. “Secara umum, topeng yang berwarna merah menyala dan berwajah garang, seperti Kelana ini, melambangkan sifat-sifat manusia yang negatif. Ini menggambarkan nafsu angkara murka, sifat mudah marah, terlalu bernafsu akan hal duniawi, serakah, dan ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol emosi atau hawa nafsu buruknya,” papar Adiyan. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian topeng juga berfungsi sebagai pengingat moral.

Sifat Topeng Kelana yang penuh amarah dan nafsu tersebut sengaja dipertentangkan secara kontras dengan karakter topeng yang pertama kali muncul, yaitu Panji. Topeng Panji ini selalu berwarna putih bersih, memiliki wajah yang tenang, lembut, dan damai, melambangkan kesucian dan kemurnian layaknya bayi yang baru lahir. Pertarungan simbolis antara Panji (kebaikan) dan Kelana (keburukan) yang disajikan dalam tarian bertujuan untuk memberikan pelajaran berharga kepada penonton tentang pentingnya menyeimbangkan dan mengendalikan gejolak sifat buruk dalam diri.

Meskipun setiap penari Topeng Cirebon harus menguasai pakem Panca Wanda, di wilayah Cirebon sendiri terdapat beberapa gaya (aliran) Tari Topeng yang khas, antara lain gaya Palimanan, Losari, Slangit, Gegesik, dan Kreo. Perbedaan gaya ini muncul karena adanya proses pewarisan yang dilakukan secara turun-temurun oleh para maestro penari (dalang topeng) di masing-masing wilayah. Ini menunjukkan betapa kayanya kesenian ini, di mana setiap daerah memiliki kekhasan gerak dan irama tersendiri, meskipun inti ceritanya tetap sama.

Berkat kekayaan cerita, kedalaman makna, dan keunikan gerakan tarinya, Topeng Cirebon tidak hanya terkenal di lingkup nasional. Para seniman Cirebon sudah berulang kali membawa kesenian ini tampil di kancah global, mengikuti berbagai festival kebudayaan di negara-negara Asia, Eropa, hingga Amerika. Hal ini membuktikan bahwa warisan budaya dari “Tanah Wali” ini memang memiliki daya tarik yang universal. Oleh karena itu, Museum Pangeran Cakrabuwana, para dalang, dan seluruh lapisan masyarakat Cirebon punya tanggung jawab besar untuk terus menjaga dan memastikan pusaka abadi ini akan terus hidup dan relevan bagi generasi yang akan datang.

Leave a Reply