Tradisi Ganti Welit di Trusmi Cirebon, Merawat Warisan Leluhur
Oleh:
Salsa Oktaviana, Fengku Ahmad Baekhaki, Ghalda Hanifah M.S
Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Tradisi ganti welit di Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, merupakan kebudayaan turun-temurun yang sudah dijalankan sejak abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1615. Kegiatan ini melibatkan pergantian atap makam keluarga Ki Buyut Trusmi yang terbuat dari anyaman daun alang-alang atau welit, dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 25 bulan Maulid bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW maupun menjelang musim hujan sebagai persiapan menghadapi cuaca basah yang bisa merusak atap lama. Warga Desa Trusmi dan sekitarnya serta masyarakat dari luar daerah bersatu padu secara gotong royong untuk menyukseskan kegiatan ini, yang juga diawali dengan doa bersama dipimpin oleh sesepuh desa sebagai bentuk penghormatan dan permohonan keberkahan.
Seluruh proses pergantian atap dilakukan bergantian mulai dari persiapan anyaman daun alang-alang hingga pemasangan secara bersama-sama, yang menimbulkan rasa kebersamaan dan solidaritas antar warga. Setelah pergantian welit selesai, biasanya diadakan pertunjukan seni tradisional seperti wayang kulit dan sisingaan, disertai makan bersama sebagai bentuk silaturahmi mempererat hubungan sosial antar komunitas yang hadir
Ganti Welit Meng hadirkan Pejabat dan Tokoh Lokal Arak-arakan Memayu Buyut Trusmi pada 23 November 2025 melibatkan rombongan pejabat, sesepuh desa, serta pasukan prajurit perempuan ala kerajaan, yang menjadi salah satu elemen utama acara sebelum penggantian welit pada hari berikutnya. Polresta Cirebon mengerahkan 390 personel gabungan untuk mengamankan kegiatan, menunjukkan keterlibatan aparat pemerintah daerah dalam menjaga kelancaran. Pemerintah Kabupaten Cirebon juga berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, serta Dishub untuk mendukung acara ini sebagai warisan budaya tak benda
Tradisi Memayu Buyut Trusmi, termasuk ganti welit, telah berkembang menjadi daya tariknya nya wisata budaya yang menarik pengunjung mancanegara, meskipun tidak ada catatan spesifik nama individu asing dalam acara terkini.Ribuan warga dari berbagai daerah memadati lokasi, dengan potensi wisatawan asing didorong melalui penetapan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Pemprov Jawa Barat pada 2025.
Makna filosofis dari tradisi ini adalah simbol pembaruan dan perubahan menuju kebaikan. Welit yang baru melambangkan harapan agar masyarakat selalu mengalami pembaruan spiritual dan moral, menjaga kebersihan hati dan pikiran, serta melestarikan nilai-nilai sosial dan budaya yang diwariskan oleh leluhur. Filosofi ini mendorong manusia untuk menjaga pikiran agar tetap bersih dan dapat membimbing tingkah laku sehari-hari agar senantiasa baik sebagaimana welit lama diganti dengan yang baru
Ganti welit juga berfungsi sebagai wujud penghormatan kepada jasa leluhur yang telah berjasa bagi masyarakat dan sebagai sarana memperkuat nilai-nilai gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi ini memungkinkan warga Desa Trusmi bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang dari luar daerah, menumbuhkan persaudaraan dan memperkuat kekompakan masyarakat lokal serta menjaga kelestarian budaya
Selain aspek religi dan budaya, tradisi ganti welit juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu mengangkat potensi ekonomi masyarakat setempat melalui pengenalan kesenian maupun kerajinan tradisional khas Cirebon. Pemerintah daerah bersama warga terus berkomitmen untuk melestarikan tradisi ini agar tidak hilang oleh perubahan zaman dan tetap relevan bagi generasi muda
Satu hari sebelum acara ganti welit, biasanya diadakan arak-arakan yang melibatkan pusaka-pusaka desa sebagai penghormatan simbolik kepada leluhur dan sebagai cara menjaga nilai spiritualitas serta kesinambungan tradisi. Arak-arakan ini menguatkan hubungan antara masyarakat dengan warisan budaya leluhur sekaligus menjadi prosesi ritus yang sakral dan bermakna.
Tradisi ini juga dikenal dengan istilah memayu, yang secara harfiah berarti memperindah atau memperbarui, sehingga ganti welit bukan sekadar pergantian fisik atap tetapi juga menjadi refleksi pembaruan diri dan kehidupan warga desa. Dalam prosesnya, warga dengan penuh kesadaran moral melaksanakan ritual ini sebagai bentuk ibadah dan komitmen untuk menjaga kebersihan hati, pikiran, dan menjaga kearifan lokal

Pelaksanaan tradisi ganti welit merupakan bukti hidupnya nilai-nilai gotong royong di Desa Trusmi yang menjadi bagian penting dari identitas kolektif masyarakat. Kehadiran warga baik dari dalam maupun luar desa yang ikut serta menunjukkan semangat kebersamaan dan solidaritas sosial yang kuat di masyarakat Trusmi
Kegiatan ganti welit juga menjadi momentum bagi warga untuk saling bertukar pengalaman dan mempererat hubungan sosial yang sudah terjalin lama, sehingga selain aspek ritual, kegiatan ini merupakan forum komunikasi sosial yang memperkuat jaringan masyarakat lokal dan menumbuhkan rasa saling memiliki terhadap tradisi dan lingkungan setempat
Dengan demikian, tradisi ganti welit di Desa Trusmi mengandung makna mendalam sebagai perpaduan antara ritual keagamaan, nilai filosofis pembaruan, budaya gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, serta sarana pengembangan sosial dan ekonomi melalui pelestarian warisan budaya yang terus dijaga keberlangsungannya oleh masyarakat sampai saat ini.







