Tradisi Kliwonan Sunan Gunung Jati: Religiusitas dan Kebersamaan Umat Cirebon

Tradisi Kliwonan Sunan Gunung Jati: Religiusitas dan Kebersamaan Umat Cirebon

Oleh:

Linda Rahmawati, Rizki Laeli Ramadhani, Ridho

Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.

Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

 

Di tengah gemuruh hujan yang mengguyur Kota Cirebon pada Jumat Kliwon di bulan November, tradisi Kliwonan di makam Sunan Gunung Jati tetap menjadi momen sakral bagi umat Islam setempat. Kliwonan, yang berasal dari kata “kliwon” dalam sistem penanggalan Jawa, adalah hari istimewa di mana umat berkumpul untuk berziarah dan berdoa di makam Sunan Gunung Jati, tokoh penyebar Islam di wilayah tersebut. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi dari religiusitas yang mendalam, di mana umat mencari berkah dan kedekatan spiritual dengan leluhur mereka.

Di  kalangan  masyarakat  Jawa  yang  masih  kental  dengan  budaya dan mistik terdapat banyak upacara ritual, salah satu di antaranya adalah upacara  ritual  “Kliwonan”,  dikatakan  sebagai  ritual  karena  dilakukan secara   tetap   pada   waktu   tertentu,   tidak   berubah   waktunya   dan dilangsungkan secara turun-temurun. Sore itu, sekitar pukul 17.00, langit Cirebon mendung tebal, dan hujan mulai turun deras, membuat jalanan licin dan udara terasa dingin menusuk tulang. Di sekitar kompleks makam Sunan Gunung Jati, suasana terasa sepi, berbeda dari biasanya yang ramai oleh peziarah. Hanya beberapa orang yang berlindung di Gazebo dan di Warung sekitar kompleks makam Sunan Gunung Jati, menunggu hujan reda. Keadaan ini mencerminkan keteguhan iman umat, yang tidak mudah tergoyahkan oleh cuaca buruk, seolah-olah hujan itu sendiri adalah bagian dari ujian spiritual.

Dari perspektif teologis, Kliwonan di Sunan Gunung Jati melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Sunan Gunung Jati, sebagai waliyullah, diyakini sebagai perantara doa, dan ziarah pada hari kliwon dianggap memiliki nilai pahala yang lebih besar. Umat yang datang membaca doa, tahlil, atau bahkan melakukan wirid, mencari ampunan dan petunjuk ilahi. Dalam ajaran Islam, ini sejalan dengan konsep tawakal, di mana manusia menyerahkan diri pada kehendak Allah, meskipun kondisi fisik seperti hujan menghalangi.

Secara sosiologis, tradisi ini memperkuat ikatan kebersamaan antar umat Islam. Di tengah kesibukan modern, Kliwonan menjadi ruang sosial di mana keluarga, tetangga, dan komunitas berkumpul. Ini menciptakan solidaritas sosial, di mana individu merasa bagian dari kelompok yang lebih besar, mengurangi isolasi dan memperkuat identitas budaya Cirebon yang kaya akan nilai-nilai Islam Jawa.

Namun sangat disayangkan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar orang yang berziarah datang lebih karena adanya hajat atau keperluan pribadi. Meskipun demikian, tidak semuanya demikian adanya. Masih ada sebagian peziarah yang benar-benar hadir dengan niat tulus, rasa hormat yang mendalam, serta kekaguman terhadap sosok Sunan Gunung Jati sebagai tokoh besar penyebar Islam dan pemimpin yang dihormati. Mereka datang bukan hanya untuk memanjatkan doa, tetapi juga untuk mengambil hikmah, meneladani ajarannya, dan meresapi nilai-nilai spiritual yang diwariskannya.

Sejarah tradisi ini bermula dari masa penyebaran Islam di Cirebon pada abad ke-15, ketika Sunan Gunung Jati dikenal sebagai tokoh yang bijak dan penuh welas asih. Setiap Jumat Kliwon, umat dari berbagai lapisan masyarakat datang untuk menghormati jasanya, menjadikan makam ini sebagai pusat spiritual. Meskipun zaman berubah, tradisi ini bertahan sebagai warisan budaya yang menghubungkan generasi lama dengan yang muda, menjaga kesinambungan nilai-nilai keagamaan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.08, hujan akhirnya reda, meninggalkan grimis kecil yang berkilauan di bawah cahaya lampu jalanan, dan tanah yang sedikit menggenang air hujan deras. Beberapa peziarah mulai berdatangan, membawa bunga dan dupa, sambil berjalan hati-hati menghindari genangan. Salah satu peziarah, seorang ibu paruh baya bernama Siti, menceritakan bahwa ia datang setiap kliwon untuk mendoakan anaknya yang sakit. “Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi sumber kekuatan spiritual,” katanya, menunjukkan bagaimana tradisi ini memberikan makna personal dalam kehidupan sehari-hari.

Dampak sosiologisnya terlihat dalam bagaimana tradisi ini membentuk struktur sosial Cirebon. Di era digital ini, di mana orang sering terjebak dalam rutinitas individual, Kliwonan menjadi ajang untuk interaksi sosial yang autentik. Anak muda yang biasanya sibuk dengan gadget, di sini belajar nilai-nilai gotong royong dan empati, memperkuat kohesi masyarakat yang sering terancam oleh urbanisasi.

Kegiatan ini memperkuat hubungan sosial karena menjadi ajang berkumpulnya warga, sekaligus melestarikan tradisi keagamaan dan budaya lokal. Bagi banyak orang, Kliwonan juga menjadi momen untuk memperdalam nilai spiritual serta mengenang keteladanan Sunan Gunung Jati. Selain membawa dampak ekonomi bagi para pedagang dan warga sekitar, tradisi ini turut meningkatkan kunjungan wisata religi di Cirebon. Namun, ramainya peziarah pada hari Kliwon terkadang menimbulkan kepadatan dan masalah kebersihan yang perlu dikelola dengan baik.

Tantangan muncul ketika modernisasi mulai menggerus partisipasi. Beberapa generasi muda lebih memilih kegiatan duniawi daripada ziarah, dan cuaca buruk seperti hujan sore itu membuat beberapa orang enggan datang. Dari sudut teologis, ini mengingatkan pentingnya menjaga iman di tengah godaan dunia, sementara sosiologisnya menunjukkan perlunya adaptasi agar tradisi tetap relevan, seperti melalui acara online atau edukasi budaya.

Melihat ke depan, tradisi Kliwonan di Sunan Gunung Jati memiliki potensi untuk berkembang sebagai simbol harmoni antara religiusitas dan kebersamaan. Dengan dukungan dari pemerintah dan komunitas, ia bisa menjadi daya tarik wisata religi yang mendidik generasi baru tentang nilai-nilai Islam yang inklusif.

Pada intinya, Tradisi Kliwonan Sunan Gunung Jati bukan hanya ritual keagamaan, melainkan fondasi bagi religiusitas dan kebersamaan umat Cirebon. Dari perspektif teologis, ia memperdalam hubungan spiritual dengan Tuhan, sementara sosiologisnya memperkuat ikatan sosial di tengah tantangan modern. Meskipun hujan dan kesepian sore itu, keteguhan umat menunjukkan bahwa tradisi ini tetap hidup, memberikan harapan untuk masa depan yang lebih harmonis dan bermakna. Dengan menjaganya, Cirebon dapat terus menjadi contoh bagaimana agama dan masyarakat saling memperkaya.