Upaya Keraton Kacirbonan Hadapi Tantangan Modernisasi Kota Cirebon

Upaya Keraton Kacirbonan Hadapi Tantangan Modernisasi Kota Cirebon

Oleh:

Cikal Maulidiyah, Yaasin Zaenal Mukaafaa, Muhammad Rifqy Ramadhan

Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.

Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

 

CIREBON — Keraton Kacirebonan sebagai salah satu pusat warisan budaya tertua di Kota Cirebon kini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan nilai-nilai sejarah di tengah derasnya arus modernisasi kota. Keraton ini berdiri pada tahun 1808M, yaitu pada msasa pecahanya kesultanan Cirebon menjadi beberapa kerton, termasuk kesepuhan dan kanoman. Periode tersebut menjadi fase penting yang menegaskan identitas kacirbonan sebagai salah satu penerus tradisi dan budaya Cirebon. Perubahan yang terjadi bukan hanya terlihat dari pembangunan fisik kota, tetapi juga dari cara hidup masyarakat yang semakin terpengaruh oleh budaya digital dan urban. Tempat hiburan modern, pusat perbelanjaan, hingga platform digital yang menawarkan konten instan membuat perhatian generasi muda beralih dari nilai-nilai tradisional yang selama ini dijaga keraton. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa upaya serius, pengetahuan tentang sejarah dan budaya lokal dapat semakin terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat Cirebon.

Di tengah situasi tersebut, Keraton Kacirebonan terus mengupayakan berbagai cara untuk menjaga eksistensinya sebagai ruang pelestarian budaya yang tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga fondasi identitas masyarakat Cirebon yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keraton menyadari bahwa modernisasi adalah bagian alami dari perkembangan kota sebuah proses yang tidak dapat dihentikan, tetapi dapat diimbangi dengan upaya pelestarian budaya yang lebih kreatif dan ramah terhadap perkembangan zaman. Karena itu, pihak keraton mulai menghadirkan pendekatan baru dalam memperkenalkan budaya, mulai dari kegiatan edukasi wisata, revitalisasi ruang-ruang bersejarah, hingga penyajian cerita sejarah dengan bahasa yang lebih ringan agar mudah dipahami anak muda. Upaya tersebut dilakukan agar keraton tetap menjadi pusat rujukan budaya, bukan sekadar bangunan tua yang hanya dikunjungi untuk berfoto.

Selain tantangan modernisasi tersebut,keraton kacirbonan juga menghadapi kemunduran historis yang muncul secara bertahap. Berkurangnya minat generasi muda terhadap sejarah local, memudarnya tradisi tutur para sesepuh,serta kurangnya regenerasi pengelola budaya menyebabkan banyak nilai-nilai keraton tidak lagi dikenal secara luas. Kondisi ini membuat peran keraton sebagai pusat ilmu sejarah dan budaya semakin melemah jika tidak segera ditangani. Menurut penjelasan Bapak Elang, pengelola edukasi budaya di Keraton Kacirebonan, tantangan modernisasi yang terjadi di Kota Cirebon dalam beberapa tahun terakhir memang sangat mempengaruhi perhatian masyarakat terhadap budaya lokal. Ia menuturkan bahwa perubahan gaya hidup akibat pesatnya perkembangan pusat hiburan, kafe kekinian, dan budaya digital membuat generasi muda semakin jauh dari sejarah keraton. “Sekarang anak-anak lebih mengenal budaya luar lewat HP daripada budaya di kotanya sendiri,” ujarnya. Kondisi ini, menurutnya, menjadi alarm bagi keraton untuk segera menyesuaikan strategi agar nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur tidak hilang di tengah derasnya arus modernisasi kota.

Sebagai respons terhadap perubahan tersebut, keraton mulai mengembangkan pendekatan edukasi yang lebih menyesuaikan kebutuhan generasi muda. Program-program yang sebelumnya hanya mengandalkan penuturan sejarah kini dibuat lebih interaktif melalui dialog, permainan edukasi, hingga aktivitas yang memungkinkan pengunjung terlibat langsung. Bapak Elang menjelaskan bahwa cara ini terbukti lebih efektif karena generasi sekarang cenderung lebih menyukai pembelajaran yang melibatkan pengalaman. “Kalau mereka ikut mencoba, ikut merasakan, barulah mereka merasa dekat dengan budaya,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan seperti ini membantu keraton tetap relevan sebagai pusat pembelajaran sejarah.

Kekhawatiran akan hilangnya nilai-nilai tradisional menjadi landasan utama keraton untuk bergerak lebih aktif. Banyak cerita sejarah yang dulunya dikenal masyarakat kini mulai terlupakan. Bapak Elang kembali menegaskan dalam wawancaranya, “Kalau kita tidak bergerak sekarang, maka 10 atau 20 tahun lagi, anak-anak mungkin sudah tidak kenal lagi siapa leluhur mereka.” Kekhawatiran ini menjadi dorongan agar pelestarian budaya tidak hanya dilakukan sebagai formalitas, tetapi benar-benar dipahami oleh masyarakat

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Keraton Kacirebonan mulai mengembangkan konsep edukasi budaya yang lebih menarik bagi pengunjung. Mereka menghadirkan tur sejarah ringan yang disesuaikan dengan gaya komunikasi anak muda. Menurut Bapak Elang, “Kita sekarang menyampaikan sejarah dengan bahasa yang santai.

Biar pengunjung lebih nyaman dan merasa dekat.” Upaya ini sekaligus menjadi bentuk adaptasi keraton terhadap perkembangan cara belajar generasi digital.

Selain tur edukatif, keraton juga melakukan revitalisasi ruang-ruang bersejarah agar tetap terawat dan layak dikunjungi. Beberapa bangunan mulai ditata ulang tanpa menghilangkan ciri khas aslinya. Dalam proses ini, Bapak Elang menjelaskan, “Perawatan itu penting. Kalau bangunannya tidak dirawat, orang akan mengira keraton ini sudah tidak aktif. Padahal sejarahnya sangat hidup.” Penataan ini diharapkan mampu menarik minat pengunjung yang ingin belajar sejarah sekaligus menikmati suasana budaya.

Keraton juga menghadirkan kegiatan budaya rutin seperti workshop batik, pembacaan naskah kuno, serta pagelaran musik tradisional. Kegiatan tersebut dipilih karena dapat   memberikan   pengalaman   langsung   bagi   generasi   muda. Bapak Elang mengatakan, “Kami ingin anak muda bukan hanya melihat sejarah, tapi ikut merasakannya. Dengan begitu keterlibatannya lebih kuat.” Program-program budaya ini menjadi bukti bahwa keraton berusaha memberikan ruang pertemuan antara tradisi dan generasi baru.

Upaya pelestarian budaya tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga melalui kolaborasi dengan sekolah, komunitas, dan instansi pemerintah. Keraton membuka pintu untuk kegiatan studi lapangan dan agenda belajar sejarah. Dalam penuturannya, Bapak Elang menyatakan, “Kami selalu terbuka untuk sekolah atau kampus yang ingin belajar di sini. Ini bagian dari tugas kami menjaga sejarah.” Kerja sama tersebut membantu memperkuat kembali hubungan masyarakat dengan warisan leluhurnya. Jika dilihat dari pendekatan antropologi, keraton kacirbonan memiliki karakter budaya yang berbeda dengan keraton kesepuhan dan keraton kanoman. Kespuhan cenderung mempertahankan adat yang lebih hierarkis.sementara itu, kanoman dikenal dengan tradisi yang kuat tetapi memiliki gaya penyampaian buday yang lebih simbolik dan ritualistik. Berbeda dari keduanya keraton kacirbonan lebih terbuka dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kacirbonan menyesuaikan cara penyampaian sejarah dengan Bahasa yang lebih santai, membuka ruang interaksi dengan anak muda, serta menghadirkan edukasi budaya yang lebih fleksibel dan komunikatif. Perbedaan pendekatan ini menunjukan bahwa setiap keraton memiliki pelestarian budaya sendiri-sendiri, dan kacirbonan memilih pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat modern tanpa meninggalkan nilai historisnya.

Namun, perjalanan pelestarian budaya tidak selalu mudah. Modernisasi membawa tantangan besar, terutama dalam hal minat generasi muda yang semakin lekat dengan budaya instan. Menanggapi hal ini, Bapak Elang menuturkan, “Anak muda sebenarnya mau belajar sejarah, asal cara penyampaiannya sesuai gaya mereka. Itu yang terus kami pelajari.” Hal ini menunjukkan komitmen keraton untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Di tengah tantangan tersebut,keraton kacirbonan tetap berupaya mempertahankan identitas budaya melalui pelestarian unsur-unsur tradisi yang diwariskan para leluhurnya. Upaya ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya tidak hanya diketahui,tetapi juga dipahami dan dihargai oleh generasi muda. Keraton kacirbonan memiliki berbagai warisan budaya yang menjadi bagian penting dari sejarah Cirebon. Warisan tersebut mencakup bangunan keraton yang bersejarah, pusaka-pusaka peninggalan leluhur, naskah kuno, serta tradisi seperti grebeg, maulid nabi,dan upacara adat lainya, selain itu, srni tari topen g,music tradisional Cirebon,hingga kerajinan batik bermotif khas keraton juga termasuk kekayaan budaya yang terus dijaga. Seluruh warisan ini menjadi bukti bahwa kacirbonan tidak hanya menghadapi tantangan modernisasi,tetapi juga terus melestarikan akar budaya yang menjadi identitas masyarakat Cirebon.

Keraton Kacirebonan juga mulai memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan sejarah dalam format yang lebih ringkas dan menarik. Konten visual seperti video pendek, cerita tokoh, dan dokumentasi kegiatan budaya menjadi sarana penting untuk menjangkau anak muda. Bapak Elang mengatakan, “Sekarang kalau tidak masuk ke media sosial, kita akan

ketinggalan. Maka keraton pun harus hadir di sana.” Dengan cara ini, sejarah tidak hanya dijaga secara fisik, tetapi juga diperkenalkan secara digital.

Pada akhirnya, seluruh upaya ini dilakukan agar Keraton Kacirebonan tetap menjadi pusat rujukan budaya di Kota Cirebon. Keraton ingin masyarakat memahami bahwa warisan budaya bukan sekadar tempat foto, tetapi sumber pengetahuan yang memiliki hikmah dan nilai kehidupan. Menutup wawancara, Bapak Elang menyampaikan, “Keraton ini amanah dari leluhur. Selama kami menjaga, sejarah akan tetap hidup bersama masyarakat Cirebon.”Dengan semangat tersebut, keraton terus berdiri sebagai penjaga identitas budaya di tengah laju modernisasi kota.

Leave a Reply