Walikota Padang dan Penghargaan Achievement Motivation 2025 .
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol
Patut dilihat dan dimengerti kenapa dan bagaimana Walikota Padang dalam satu tahun kepemimpinannya berhasil meraih banyak penghargaan, apa motivasi berprestasi (achievement motivation) yang bisa ditarik, dan apa makna strategisnya.
Alasan Wali Kota dan tentunya Pemkot Padang mendapat Penghargaan di 2025 dari Perspektif Achievement Motivation
Analisis yang digunakan kerangka achievement motivation (motivasi berprestasi) pada kepemimpinan Kota Padang dapat dilihat dari aspek penting:
1.Prestasi dan Penghargaan yang Diraih.
Beberapa penghargaan penting yang diraih Pemkot Padang di tahun 2025:
SPM Awards 2025 — Padang dinilai sebagai kota terbaik dalam Standar Pelayanan Minimal (pelayanan dasar ke masyarakat).
ISNA (Indonesia Smart Nation Awards) 2025 — Padang memperoleh Special Award atas inovasi “Smart Surau” dan komitmen smart city.
Zakat-Wakaf Award 2025 — Penghargaan sebagai Kolaborator Pemerintah Daerah Terbaik dalam program zakat dan wakaf.
Top BUMD Awards 2025 — Wali Kota Padang sebagai Top Pembina BUMD (Perumda Air Minum Padang) mendapat penghargaan.
Pembebasan Retribusi PBG Terbanyak di Sumbar — Padang mendapat penghargaan dari KemenPKP karena kebijakan pembebasan retribusi izin PBG untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah).
2.Analisis Melalui Lensa Achievement Motivation
Sekarang, mari kaitkan pencapaian-pencapaian ini dengan konsep achievement motivation person, mengapa ini mencerminkan motivasi berprestasi di pemimpin kota, dan strateginya.
a. Dorongan untuk Pencapaian (High nAch)
Pemkot Padang tampak memiliki dorongan kuat untuk mencapai standar keunggulan publik:
SPM Awards menunjukkan bahwa mereka tidak cuma “cukup” memberikan pelayanan dasar, tetapi berusaha memenuhi dan melampaui standar minimal pelayanan publik. Ini menunjukan orientasi keunggulan (bukan sekadar sekadar memenuhi kewajiban).
ISNA dan Smart Surau: Inovasi smart city berarti mereka menantang cara konvensional untuk menggabungkan teknologi dan pelayanan sosial / keagamaan (misal “Surau” = tempat ibadah lokal) — menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan tantangan baru dan menghasilkan solusi bermakna.
Zakat-Wakaf Award: Kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga keagamaan / masyarakat dalam mengelola zakat/wakaf produktif menunjukkan komitmen jangka panjang dan tanggung jawab sosial, bukan sekedar lip service.
b. Orientasi Proses + Feedback
Dalam penghargaan SPM, untuk memenuhi standar pelayanan minimal, Pemkot harus melakukan pemantauan, evaluasi, dan perbaikan proses pelayanan publik (perencanaan hingga implementasi). Ini mencerminkan fokus pada proses, bukan hanya hasil akhir.
Untuk smart city (ISNA), inovasi “Smart Surau” misalnya, membutuhkan eksperimen, kolaborasi, dan pengukuran dampak artinya ada elemen umpan balik (feedback) dari masyarakat dan efek nyata.
Kolaborasi zakat-wakaf: kolaborasi berbasis lembaga dan masyarakat memungkinkan dialog, evaluasi, dan adaptasi (feedback antar pemangku kepentingan).
c. Tanggung Jawab dan Kepemimpinan Mandiri
Wali Kota, Wakil Walikota dan tim kerja Pemkot memimpin kebijakan strategis seperti pembebasan retribusi PBG untuk MBR. Ini menunjukkan tanggung jawab sosial dan keberanian membuat keputusan penting demi kesejahteraan warga kurang mampu.
Dalam BUMD (Air Minum), penghargaan Top Pembina BUMD berarti bahwa pemimpin daerah (wali kota) aktif dalam membina BUMD dan mendorong kinerja organisasi milik daerah — tanggung jawab manajerial dan kepemimpinan nyata.
d. Tantangan Realistis tambah Ambisi.
Smart city bukan hal mudah, terutama di kota dengan tantangan sosial, ekonomi, dan infrastruktur tradisional. Menjalankan program Smart Surau menunjukkan bahwa Padang mengambil tantangan ambisius tetapi tidak mustahil (realistis).
Kebijakan pembebasan retribusi PBG adalah kebijakan yang memberi beban finansial jangka pendek (potensi pendapatan daerah berkurang) tetapi diambil demi manfaat jangka panjang (pertumbuhan inklusif, peningkatan formalitas bangunan, kesejahteraan masyarakat).
e. Makna Sosial (Purpose-driven)
Kolaborasi zakat dan wakaf: ini bukan sekadar soal efisiensi pelayanan publik, tapi juga dampak sosial-keagamaan. Ada nilai moral dan tujuan untuk memberdayakan umat, yang sangat meaningful.
Pelayanan dasar (SPM): orientasi ke pelayanan masyarakat (health, pendidikan, sosial) sangat erat dengan makna publik dan misi kemanusiaan.
Smart Surau: menggabungkan teknologi dan nilai-nilai keagamaan / komunitas lokal — ini memberikan makna mendalam (tidak hanya kemajuan teknologi, tetapi penguatan karakter masyarakat).
3.Strategi Achievement Motivation yang digunakan dan terlihat pada Kepemimpinan Padang
Dari analisis di atas, kita bisa infer (menarik kesimpulan) strategi achievement motivation yang digunakan oleh Pemkot Padang:
1.Menetapkan Tujuan Ambisius Tapi Terukur
Tujuan smart city, kolaborasi zakat, pelayanan publik: semuanya jelas, strategis, dan terukur (atau setidaknya dievaluasi melalui indikator penghargaan).
2.Memberi Otonomi dan Mendorong Inovasi
Memanfaatkan struktur pemerintahan lokal / OPD untuk berinovasi (misal program Smart Surau) menunjukkan bahwa kepemimpinan memberi ruang untuk kreativitas dan tanggung jawab.
3.Kolaborasi Lintas Sektor
Dalam zakat-wakaf, Pemkot Padang tidak bekerja sendirian: melibatkan masyarakat, lembaga agama, nazhir, dsb. Motivasi berprestasi di sini dipadukan dengan kolaborasi agar dampak lebih besar.
4.Pemantauan dan Evaluasi
Untuk meraih SPM Awards dan penghargaan lainnya, jelas ada proses monitoring dan evaluasi pelayanan publik. Ini bagian dari strategi menjaga standar tinggi secara konsisten.
5.Memberikan Insentif Publik (Penghargaan dan Reputasi)
Penghargaan publik (ISNA, SPM, Zakat-Wakaf) bukan hanya hasil, tetapi juga menjadi insentif motivasi (prestise) untuk terus berinovasi.
6.Fokus pada Nilai Sosial dan Keberlanjutan
Strategi bukan semata mengejar angka, tetapi membangun sistem berkelanjutan (misal wakaf produktif, smart city berbasis surau) yang punya nilai sosial jangka panjang.
4.Makna dari Pendekatan Achievement Motivation dalam Konteks Kepemimpinan Kota
Kepemimpinan yang berorientasi achievement motivation (motivasi berprestasi) biasanya sangat efektif dalam konteks pemerintahan karena:
1.Meningkatkan kinerja pemerintah daerah, dorongan untuk berprestasi dapat memperbaiki kualitas layanan publik (SPM).
2.Mendorong inovasi publik smart city dan program berbasis teknologi plus sosial menunjukkan bahwa motivasi berprestasi dapat mengubah kota secara transformasional.
3.Memberikan dampak sosial kolaborasi zakat dan wakaf memperlihatkan bahwa prestasi publik bisa sejalan dengan misi sosial-keagamaan dan kesejahteraan masyarakat.
4.Membangun reputasi penghargaan nasional membantu citra Padang sebagai kota maju, progresif, dan kompetitif, yang bisa mendatangkan investasi, partisipasi masyarakat, dan kepercayaan publik.
5.Menginternalisasi budaya kinerja tinggi jika orientasi prestasi ini dikelola baik, bisa menjadi budaya pemerintahan: bukan hanya sekali penghargaan, tetapi dorongan untuk terus meningkatkan.
5.Potensi Risiko dan Tantangan dari Motivasi Berprestasi di Pemerintahan
Tentu, motivasi berprestasi tinggi juga punya risiko jika tidak dikelola dengan baik:
Bisa mendorong orientasi penghargaan, di mana OPD / pejabat bekerja hanya untuk “mendapat penghargaan” bukan semata untuk pelayanan.
Tekanan untuk berprestasi bisa membuat manajemen stres tinggi, atau ada pengambilan risiko kebijakan yang agresif tanpa pertimbangan matang.
Jika terlalu fokus pada metrik penghargaan (KPIs), bisa abaikan aspek lain yang sulit diukur (misal kesejahteraan sosial non-numerik).
Kolaborasi lintas sektor (misal zakat dan wakaf) butuh konsistensi; jika motivasi hanya di level penghargaan, kolaborasi bisa lepas setelah penghargaan diperoleh.
Kesimpulan
Alasan Wali Kota /Pemkot Padang mendapat penghargaan banyak di 2025 sangat selaras dengan profil achievement motivation person, ada dorongan kuat untuk prestasi, inovasi, dan perbaikan pelayanan publik.
Strategi kepemimpinan Padang menunjukkan penggunaan goal-setting, kolaborasi, otonomi, serta pemantauan dan evaluasi, yang semuanya merupakan elemen kunci dalam motivasi berprestasi.
Makna dari prestasi ini tidak hanya “bangga mendapat penghargaan,” tetapi juga sebagai bukti komitmen pada pelayanan berkualitas, inovasi sosial-teknologi, dan pembangunan berkelanjutan yang berpijak pada nilai sosial-keagamaan.
Namun, ada potensi risiko jika motivasi hanya berfokus pada penghargaan, jadi penting agar orientasi prestasi dipertahankan dengan seimbang: prestasi + tanggung jawab publik + nilai sosial.20112025.







Mntap