ZIARAH ULAMA NUSANTARA DI MA’LA

ZIARAH ULAMA NUSANTARA DI MA’LA:
Belajar dari Jejak Orang-Orang Saleh di Tanah Suci

Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Rabu, 15 Juli 2026, menjadi salah satu hari yang sangat berkesan selama mengikuti Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman. Hari itu diawali dengan silaturahim bersama beberapa teman sejawat dosen UIN Imam Bonjol Padang di sekitar Pintu 87 Masjidil Haram setelah salat Subuh. Pertemuan sederhana di Tanah Haram itu menghadirkan suasana ukhuwah ilmiah yang hangat. Meskipun berasal dari kampus yang sama, Allah SWT mempertemukan kami di hadapan Ka’bah, pusat persatuan umat Islam sedunia.

Dari Masjidil Haram, saya bersama Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag. melanjutkan perjalanan menuju Kompleks Pemakaman Jannatul Mu’alla (Ma’la). Kunjungan ini bukan sekadar ziarah kubur, tetapi juga merupakan silaturahim batin kepada Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah al-Kubra RA, istri pertama Rasulullah SAW, perempuan agung yang mengorbankan jiwa, harta, dan seluruh cintanya demi tegaknya dakwah Islam. Berziarah di dekat makam beliau menghadirkan rasa haru, syukur, dan penghormatan yang mendalam kepada sosok yang menjadi penopang utama perjuangan Rasulullah SAW pada masa-masa awal Islam.

Bagi setiap peziarah, Ma’la memiliki makna yang sangat istimewa karena di sanalah dimakamkan Ummul Mukminin Sayyidah Khadijah al-Kubra RA. Selama hampir dua puluh lima tahun mendampingi Rasulullah SAW, Khadijah bukan hanya menjadi pendamping hidup, tetapi juga sahabat perjuangan, penopang ekonomi dakwah, pemberi ketenangan jiwa, dan orang pertama yang membenarkan kerasulan Muhammad SAW. Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira dan Rasulullah SAW pulang dalam keadaan menggigil, Khadijahlah yang menenangkan beliau seraya meyakinkan bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang menyambung silaturahim, membantu kaum lemah, memuliakan tamu, dan membela kebenaran.

Pengorbanan Khadijah begitu besar sehingga Rasulullah SAW tidak pernah melupakannya. Bahkan setelah beliau wafat, Rasulullah masih sering mengenangnya dengan penuh cinta. Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Allah SWT memberikan kabar gembira kepada Khadijah berupa sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara, yang di dalamnya tidak ada kelelahan dan tidak ada kebisingan. Kemuliaan ini menunjukkan kedudukan Khadijah sebagai teladan keimanan, kesetiaan, dan pengorbanan sepanjang sejarah Islam.

Kompleks Pemakaman Jannatul Mu’alla (Ma’la) bukan sekadar pemakaman tua, tetapi merupakan salah satu ruang sejarah peradaban Islam. Di tempat inilah dimakamkan sejumlah keluarga Rasulullah SAW, para sahabat, ulama, dan tokoh-tokoh besar, termasuk puluhan ulama Nusantara yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan dakwah.

Di antara nama-nama yang sangat masyhur ialah Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, KH. Maimoen Zubair, Syekh Ahmad Khatib as-Sambasi, dan Syekh Junaid al-Batawi. Kehadiran makam mereka menjadi bukti bahwa ulama Nusantara pernah menjadi bagian penting dari jaringan keilmuan dunia Islam di Makkah. Mereka datang sebagai penuntut ilmu, kemudian menjadi guru di Masjidil Haram, menulis kitab-kitab yang dipelajari di berbagai negeri Islam, lalu kembali atau menetap di Makkah hingga wafat dan dimakamkan di Tanah Suci.

Rasulullah SAW bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ
“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena ia mengingatkan kalian kepada akhirat.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa tujuan utama ziarah kubur adalah tazakkur al-maut, mengingat kematian dan kehidupan akhirat, bukan meminta sesuatu kepada penghuni kubur.

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ziarah kubur memiliki banyak hikmah. Pertama, memperkuat kesadaran akan kefanaan dunia. Di hadapan makam, semua manusia menjadi sama. Jabatan, kekayaan, kedudukan, dan popularitas berhenti di batas liang kubur. Yang tetap menyertai seseorang hanyalah iman, amal saleh, dan ilmu yang bermanfaat.

Kedua, menumbuhkan penghormatan kepada para pewaris nabi. Rasulullah SAW bersabda:
الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Karena itu, berziarah kepada makam ulama bukanlah mengagungkan jasad mereka, melainkan menghormati perjuangan ilmu, dakwah, akhlak, dan pengabdian yang mereka wariskan kepada umat.

Ketiga, menyambung sanad keilmuan. Dalam tradisi Islam, ilmu diwariskan melalui mata rantai guru yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Berdiri di hadapan makam ulama Nusantara di Ma’la mengingatkan bahwa kemajuan Islam di Indonesia dibangun oleh para ulama yang bertahun-tahun belajar di Makkah, kemudian kembali mendirikan surau, pesantren, dan madrasah yang melahirkan generasi ulama berikutnya.

Keempat, memperkuat motivasi untuk menuntut ilmu dan mengabdi kepada umat. Hampir seluruh ulama yang dimakamkan di Ma’la dikenang bukan karena kekayaan atau kekuasaan, tetapi karena keluasan ilmu, ketekunan mengajar, karya ilmiah, dan akhlak mulia yang manfaatnya terus mengalir hingga hari ini.

Dalam perspektif tasawuf, ziarah kepada makam orang-orang saleh merupakan sarana muhasabah dan tazkiyatun nafs. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa melihat kuburan dapat melembutkan hati, mematahkan kesombongan, serta membangkitkan kesadaran untuk mempersiapkan bekal menuju Allah SWT. Karena itu, para salik diajarkan datang dengan adab: mengucapkan salam, mendoakan ahli kubur, memperbanyak zikir dan istighfar, serta mengambil pelajaran dari kehidupan mereka.

Dalam perspektif mazhab Syafi’i, ziarah kubur, khususnya kepada orang tua, ulama, dan orang-orang saleh, merupakan amalan yang dianjurkan (mustahabb). Imam an-Nawawi menegaskan bahwa tujuan ziarah ialah mendoakan ahli kubur, mengambil ibrah, memperbanyak zikir, serta menjaga kemurnian tauhid dengan tidak meminta sesuatu kepada penghuni kubur.

Saat ini, makam-makam di Jannatul Mu’alla tampak sangat sederhana tanpa kubah dan bangunan megah. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari pengelolaan yang diterapkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk menjaga kemurnian akidah dan menghindarkan praktik pengkultusan makam. Namun, kesederhanaan itu sama sekali tidak mengurangi penghormatan umat kepada para penghuni Ma’la. Yang dimuliakan bukanlah bangunan makam, melainkan ilmu, jasa, perjuangan, dan keteladanan mereka.

Dari sudut pandang psikologi modern, ziarah juga memiliki fungsi reflektif. Kehadiran di makam tokoh-tokoh besar mendorong seseorang melakukan evaluasi diri (self-reflection), menemukan makna hidup (meaning making), serta membangun motivasi moral melalui keteladanan. Makam menjadi ruang kontemplasi yang mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukanlah panjangnya usia, melainkan besarnya manfaat yang diwariskan kepada umat.

Keberadaan makam para ulama Nusantara di Ma’la merupakan kebanggaan sekaligus amanah sejarah bagi bangsa Indonesia. Mereka membuktikan bahwa ulama Nusantara pernah menjadi imam, khatib, guru besar Masjidil Haram, ahli hadis, ahli fikih, ahli sanad, penulis kitab-kitab rujukan dunia, dan pembimbing umat lintas bangsa. Warisan intelektual mereka menjadi fondasi berkembangnya pesantren, surau, dan tradisi keilmuan Islam di Nusantara hingga hari ini.

Pada siang hari, rangkaian perjalanan kami berlanjut menuju Thaif untuk menziarahi jejak perjuangan Rasulullah SAW dan sejumlah situs bersejarah Islam. Seluruh rangkaian perjalanan ini difasilitasi dengan sangat baik oleh Kerajaan Arab Saudi sebagai bagian dari Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain. Bagi kami, perjalanan ini bukan hanya wisata sejarah, melainkan perjalanan ruhani yang mempertemukan hati dengan jejak Rasulullah SAW, keluarga beliau, para sahabat, dan para ulama pewaris risalah.

Di hadapan Ma’la, saya merasakan bahwa sejarah Islam bukan hanya tertulis di dalam kitab-kitab, tetapi hidup dalam jejak orang-orang yang mengabdikan seluruh kehidupannya untuk Allah SWT. Dari Khadijah al-Kubra RA kita belajar tentang cinta, kesetiaan, dan pengorbanan. Dari para ulama Nusantara kita belajar tentang ilmu, ketekunan, dan dakwah. Semuanya meninggalkan pesan yang sama kepada setiap peziarah: jadilah manusia yang hidupnya diabdikan untuk iman, ilmu, amal saleh, dan kemaslahatan umat, karena itulah warisan yang akan terus hidup ketika jasad telah kembali ke tanah.15072026.