QURBAN DI TENGAH EKONOMI SULIT
(Spirit Taqwa, Keikhlasan, dan Solidaritas Sosial)
Oleh: Duski Samad
Khutbah Masjid Nurul Ilmi Unand, 23 Mei 2026.
Idul Adha hadir di tengah realitas sosial yang tidak selalu mudah. Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan terbatas, daya beli masyarakat melemah, dan tidak sedikit keluarga yang hidup dalam tekanan ekonomi. Pada saat yang sama, masyarakat juga menyaksikan adanya ketimpangan sosial yang semakin nyata; sebagian kecil hidup dalam kelimpahan, sementara sebagian lain berjuang memenuhi kebutuhan dasar kehidupannya.
Dalam situasi seperti ini, ibadah qurban menjadi sangat relevan dibaca bukan sekadar sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai pendidikan ruhani, sosial, dan peradaban.
Al-Qur’an mengingatkan: “Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini mengandung pesan besar tentang keadilan sosial. Islam tidak memusuhi orang kaya, tetapi menolak penumpukan kekayaan yang melahirkan kesenjangan, kesombongan, dan hilangnya kepedulian terhadap kaum lemah.
Karena itu qurban adalah simbol distribusi nikmat, pemerataan kasih sayang, dan solidaritas kemanusiaan.
Spirit Taqwa pada Habil
Kisah qurban pertama dalam sejarah manusia terdapat dalam kisah Habil dan Qabil.
Allah SWT berfirman: “Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang mereka dan tidak diterima dari yang lain.”(QS. Al-Ma’idah: 27)
Para mufassir menjelaskan bahwa Habil mempersembahkan yang terbaik dari hartanya, sedangkan Qabil memberi dengan hati yang tidak tulus. Karena itu Allah menerima qurban Habil.
Lalu Habil berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)
Di sinilah hakikat qurban. Yang utama bukan besar kecil hewan, bukan gengsi sosial, bukan pula pencitraan. Yang paling penting adalah taqwa dan keikhlasan.
Spirit Habil mengajarkan bahwa qurban adalah bentuk penghormatan terhadap perintah Allah. Memberi yang terbaik merupakan tanda kebersihan hati dan ketulusan iman.
Hari ini, ketika budaya pamer dan pencitraan semakin kuat di era digital, qurban mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada simbol dan penampilan luar. Sebab Allah tidak melihat kemewahan acara atau besarnya publikasi, tetapi melihat hati dan ketakwaan hamba-Nya.
Spirit Keikhlasan Ibrahim, Ismail, dan Hajar
Qurban juga mengandung spirit pengorbanan total sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan Siti Hajar.
Allah SWT mengabadikan doa Nabi Ibrahim:“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Allah mengabulkan doa itu dengan menghadirkan Ismail. Namun ketika cinta kepada anak telah tumbuh begitu dalam, Allah menguji Ibrahim dengan perintah yang sangat berat.
Keagungan kisah ini bukan hanya pada Ibrahim yang rela menjalankan perintah Allah, tetapi juga pada Ismail yang tunduk penuh keikhlasan serta Hajar yang sabar menerima ketentuan Ilahi.
Mereka mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas kepentingan pribadi, ego, dan kecintaan duniawi.
Karena itu hakikat qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih: keserakahan, egoisme, cinta dunia berlebihan, dan sifat individualistik.
Di tengah kehidupan modern yang sangat materialistik, spirit Ibrahim menjadi sangat penting. Banyak manusia hari ini terjebak dalam perlombaan kemewahan, gaya hidup konsumtif, dan orientasi dunia semata. Akibatnya lahir ketimpangan sosial, kerakusan ekonomi, bahkan hilangnya empati terhadap penderitaan sesama.
Qurban hadir untuk membersihkan hati dari penyakit tersebut.
Spirit Qurban Umat Nabi Muhammad SAW
Dalam syariat Nabi Muhammad SAW, qurban tidak hanya mengandung dimensi spiritual, tetapi juga dimensi sosial yang sangat kuat.
Qurban adalah wujud syukur atas nikmat Allah sekaligus bentuk solidaritas terhadap masyarakat lemah.
Karena itu daging qurban tidak boleh hanya berputar pada kelompok tertentu. Ia harus sampai kepada:
fakir miskin, dhuafa, buruh kecil, lansia, janda, dan masyarakat yang jarang menikmati makanan layak.
Idul Adha sesungguhnya adalah momentum distribusi kebahagiaan sosial.
Dalam konteks ekonomi sulit, qurban memiliki dampak sosial yang besar:
membantu peternak rakyat, menggerakkan ekonomi kecil, memperkuat ukhuwah, dan menghadir kan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.
Spirit ini sangat berbeda dengan budaya kapitalistik yang cenderung menumpuk keuntungan pada kelompok elite tertentu.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan bahaya munculnya kelompok mutrafiha, yakni elite yang hidup dalam kemewahan tetapi kehilangan tanggung jawab sosial.
Ketika kekayaan hanya beredar pada segelintir orang, sementara rakyat hidup susah, maka lahirlah: kecemburuan sosial, konflik, kriminalitas,
dan kerusakan moral masyarakat.
Maka qurban adalah terapi spiritual sekaligus terapi sosial.
Allah SWT menegaskan: “Daging dan darah qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Karena itu Idul Adha harus melahirkan manusia yang:
bertaqwa seperti Habil,
ikhlas seperti Ibrahim dan Ismail, serta peduli sosial seperti ajaran Nabi Muhammad SAW.
Jika spirit ini hidup, maka qurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi kekuatan moral untuk menjaga keadilan sosial, memperkuat persaudaraan, dan merawat kemanusiaan di tengah dunia yang semakin individualistik. Ds.22052026.





