DARI BAYAM MERAH MENUJU ILMU YANG BERMANFAAT:
Membaca Alam, Menemukan Ayat Tuhan
Oleh: Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag
Guru Besar UIN Imam Bonjol
Bayam merah bagi kebanyakan orang adalah sayuran. Ia tumbuh di kebun, diperjualbelikan di pasar, dimasak di dapur, kemudian disajikan sebagai bagian dari kebutuhan pangan keluarga. Namun di tangan seorang peneliti, bayam merah tidak lagi sekadar sayuran. Ia menjadi objek ilmu pengetahuan, sumber data, ruang penelitian, bahkan jalan untuk membaca sebagian kecil dari keluasan tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam.
Kesadaran itu terasa ketika mengikuti ujian tertutup disertasi Ayu Muthia pada Program Studi Ilmu Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas. Disertasinya mengangkat tema “Studi Komparatif Profil Metabolit Sekunder Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) Menggunakan Spektroskopi, LC-HRMS, dan Kemometrik untuk Identifikasi Senyawa Penanda Kimia.” Tema ini mungkin terdengar sangat teknis bagi masyarakat umum, tetapi justru di balik keteknisan itulah tersimpan pesan penting tentang hakikat ilmu dan tugas seorang ilmuwan.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana di permukaan ternyata mempunyai struktur yang sangat kompleks ketika dibaca dengan perangkat ilmu pengetahuan. Spektroskopi, Liquid Chromatography–High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), dan kemometrik memungkinkan seorang peneliti masuk lebih dalam untuk mengenali profil kimia dan metabolit sekunder suatu tumbuhan. Mata manusia mungkin hanya melihat warna merah dan bentuk daun, tetapi instrumen ilmiah mampu membaca realitas pada tingkatan yang tidak terjangkau oleh penglihatan biasa.
Di sinilah ilmu menjalankan salah satu fungsi mulianya, yaitu menyingkap yang tersembunyi di balik yang tampak.
Dalam Al-Qur’an, aktivitas seperti ini sesungguhnya mempunyai landasan epistemologis yang kuat. Allah berfirman, “Wa fil-arḍi āyātun lil-mūqinīn, wa fī anfusikum afalā tubṣirūn”—“Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. al-Dzāriyāt [51]: 20–21).
Kata āyāt dalam ayat tersebut penting direnungkan. Alam bukan hanya benda yang tersedia untuk dimanfaatkan manusia. Alam adalah tanda. Tanah adalah tanda, air adalah tanda, tumbuhan adalah tanda, tubuh manusia adalah tanda, bahkan struktur molekul yang tidak terlihat oleh mata pun merupakan bagian dari realitas ciptaan yang dapat membawa manusia kepada pengetahuan.
Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal pemahaman mengenai ayat Qur’aniyah dan ayat kauniyah. Ayat Qur’aniyah adalah wahyu Allah yang tertulis dan dibaca dalam Al-Qur’an, sedangkan ayat kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran-Nya yang terbentang dalam alam semesta. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Al-Qur’an mengarahkan manusia untuk membaca alam, sedangkan penelitian ilmiah memberikan metode untuk melakukan pembacaan itu secara sistematis, objektif, terukur, dan dapat diuji.
Karena itu laboratorium dapat pula dipandang sebagai salah satu ruang membaca ayat kauniyah. Mikroskop, spektroskopi, kromatografi, spektrometri massa, komputasi, kemometrik, dan kini kecerdasan artifisial merupakan alat yang memperluas kemampuan manusia untuk membaca realitas ciptaan Allah.
Semangat tersebut sejatinya sudah terkandung dalam wahyu pertama, “Iqra’ bismi rabbika alladzī khalaq”—“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. al-‘Alaq [96]: 1). Iqra’ tidak harus dibatasi hanya pada membaca tulisan. Manusia diperintahkan membaca dirinya, masyarakat, sejarah, dan alam semesta. Ahli tafsir membaca teks wahyu, ahli sosial membaca masyarakat, sedangkan ahli kimia membaca struktur material ciptaan Tuhan.
Namun ada satu hal penting. Al-Qur’an tidak hanya mengatakan iqra’, tetapi iqra’ bismi rabbika. Membaca harus tetap berada dalam kesadaran nilai dan tanggung jawab kepada Tuhan. Ilmu tidak boleh kehilangan arah moralnya. Semakin canggih ilmu manusia, semakin besar pula tanggung jawabnya agar ilmu itu digunakan untuk kehidupan, bukan untuk kerusakan.
Integrasi ayat Qur’aniyah dan ayat kauniyah karena itu bukan berarti setiap penemuan laboratorium harus dipaksakan mencari ayat Al-Qur’an yang dianggap sesuai dengannya. Cara seperti itu justru dapat menyederhanakan sains maupun wahyu. Integrasi yang lebih substantif adalah mempertemukan ketelitian sains dengan kedalaman nilai wahyu. Sains menjelaskan bagaimana realitas bekerja, sementara wahyu memberikan orientasi mengenai untuk apa pengetahuan itu digunakan dan bagaimana manusia mempertanggungjawabkannya.
Pemikiran ini sangat dekat dengan falsafah Minangkabau, Alam Takambang Jadi Guru. Alam yang terkembang adalah guru bagi manusia. Pepatah tersebut tidak semestinya hanya menjadi slogan kebudayaan. Di dalamnya terdapat epistemologi yang sangat kuat. Manusia adalah murid alam. Ia harus memperhatikan, membaca, membandingkan, memahami, dan mengambil pelajaran dari keteraturan alam.
Nenek moyang Minangkabau membaca alam dengan pengalaman panjang. Mereka membaca tanah, lereng, sungai, hujan, musim, tumbuhan, dan perilaku makhluk hidup. Ilmuwan modern melanjutkan pembacaan itu dengan instrumen yang jauh lebih canggih. Metodenya berkembang, tetapi semangat dasarnya memiliki titik temu: alam adalah sumber pengetahuan.
Karena itu Alam Takambang Jadi Guru seharusnya dapat dikembangkan dari sekadar falsafah budaya menjadi epistemologi riset. Perguruan tinggi di Sumatera Barat memiliki peluang besar untuk mempertemukan kearifan lokal tersebut dengan sains modern dan nilai-nilai Islam. Di sinilah falsafah adat, wahyu, dan laboratorium dapat bertemu secara produktif.
Al-Qur’an menggambarkan manusia berilmu sebagai ulul albāb, yakni mereka yang mengintegrasikan zikir dan pikir. Mereka “memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 191).
Ungkapan “mā khalaqta hādzā bāṭilā”—tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia—memiliki relevansi yang sangat kuat dengan penelitian. Sesuatu yang dianggap biasa oleh masyarakat boleh jadi menyimpan pengetahuan dan manfaat yang belum ditemukan. Bayam merah adalah contoh yang sederhana. Di pasar ia merupakan komoditas pangan. Di laboratorium ia menjadi objek fitokimia dan metabolomik. Melalui penelitian yang semakin mendalam, identifikasi metabolit dan senyawa penanda kimia dapat memberikan dasar bagi penelitian lebih lanjut mengenai standardisasi bahan, kontrol kualitas, aktivitas biologis, pangan fungsional maupun kemungkinan pengembangan di bidang farmasi, tentu setelah manfaat dan keamanannya dibuktikan melalui tahapan ilmiah yang memadai.
Perjalanan ilmu kemudian bergerak dari alam menuju observasi, dari observasi menuju laboratorium, dari laboratorium menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju inovasi, dan dari inovasi menuju kemanfaatan manusia.
Di sinilah konsep ‘ilman nāfi’an, ilmu yang bermanfaat, menjadi penting. Rasulullah saw. mengajarkan doa, “Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi’an”—“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.”
Universitas tentu memerlukan disertasi, jurnal bereputasi, sitasi, paten, inovasi, dan berbagai indikator akademik lainnya. Semua itu penting. Namun tujuan akhir ilmu tidak boleh berhenti pada angka kredit, pangkat, gelar, publikasi, atau rak perpustakaan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apa yang berubah menjadi lebih baik karena ilmu yang kita hasilkan?
Sebuah disertasi karena itu idealnya tidak berakhir setelah promovendus dinyatakan lulus. Ia harus menjadi pintu bagi penelitian berikutnya. Hasilnya dapat dipublikasikan, diverifikasi, dikembangkan melalui kerja lintas disiplin, dan bila memungkinkan dihilirisasi secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Perguruan tinggi harus bergerak dari knowledge production menuju knowledge transformation, dari knowledge transformation menuju innovation, dan dari inovasi menuju social benefit.
Hal ini semakin penting bagi Indonesia yang memiliki kekayaan biodiversitas luar biasa. Kita memiliki ribuan jenis tumbuhan, tradisi pangan, pengetahuan lokal, serta berbagai sumber daya biologis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun kekayaan alam tidak otomatis menjadi kekayaan ilmu. Kekayaan biologis baru memperoleh nilai strategis ketika ia diidentifikasi, diteliti, didokumentasikan, distandardisasi, dilindungi, dan dikembangkan berdasarkan bukti ilmiah.
Bangsa ini harus bergerak dari menjual bahan menuju menghasilkan pengetahuan, dari komoditas menuju inovasi, dari kekayaan alam menuju kekayaan intelektual, dan dari eksploitasi menuju keberlanjutan. Penelitian seperti yang dilakukan Ayu Muthia merupakan bagian dari mata rantai panjang untuk membangun kemandirian pengetahuan tersebut.
Namun semakin jauh manusia mampu membongkar rahasia alam, semakin besar pula tanggung jawab etiknya. Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah di bumi. Allah berfirman, “Innī jā’ilun fil-arḍi khalīfah”—“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi” (QS. al-Baqarah [2]: 30). Kekhalifahan tidak berarti manusia mendapat izin untuk mengeksploitasi alam tanpa batas. Khalifah adalah pemegang amanah.
Di sinilah sains bertemu dengan spiritualitas dan perspektif Sufi Ecology. Alam dibaca dengan akal, direnungkan dengan hati, dan diperlakukan dengan adab. Sains memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengetahui alam, sedangkan spiritualitas memberikan kesadaran mengenai bagaimana pengetahuan itu seharusnya digunakan. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin kuat pula amanahnya terhadap kehidupan.
Atas dasar itulah capaian akademik Dr. Ayu Muthia patut mendapatkan apresiasi. Selamat dan tahniah kepada Dr. Ayu Muthia, seorang peneliti muda yang telah menyelesaikan perjalanan akademik doktoralnya melalui penelitian serius dan mendalam. Gelar doktor bukanlah terminal perjalanan ilmu. Ia adalah awal dari amanah intelektual yang jauh lebih besar.
Kita berharap Dr. Ayu Muthia menjadi bagian dari generasi ilmuwan muda Indonesia yang mampu membangun dialog produktif antara ayat kauniyah dan ayat Qur’aniyah, antara laboratorium dan wahyu, antara ketelitian metodologi dan kedalaman spiritualitas, serta antara kecanggihan teknologi dan tanggung jawab kemanusiaan.
Ilmuwan Muslim masa depan tidak perlu memilih antara menjadi saintis atau menjadi manusia beriman. Tantangannya justru bagaimana menjadi ilmuwan yang ketajaman sainsnya memperdalam kesadaran tentang kebesaran Tuhan, dan kejernihan imannya memperkuat integritas dalam menjalankan sains.
Bayam merah akhirnya memberikan pelajaran yang jauh melampaui dirinya. Tidak ada ciptaan Tuhan yang terlalu kecil untuk diteliti, sebagaimana tidak ada penelitian yang terlalu teknis untuk diarahkan kepada kemaslahatan. Dari sehelai daun manusia dapat masuk ke dunia molekul; dari dunia molekul lahir pengetahuan; dari pengetahuan lahir inovasi; dan dari inovasi diharapkan hadir kemanfaatan bagi kehidupan.
Universitas masa depan membutuhkan integrasi antara wahyu, sains, budaya, teknologi, dan kemanusiaan. Al-Qur’an memberikan spirit iqra’. Kebudayaan Minangkabau memberikan pesan Alam Takambang Jadi Guru. Laboratorium menyediakan metode pembuktian. Teknologi memperluas kemampuan manusia membaca alam. Sementara iman, etika, dan spiritualitas memastikan agar ilmu tidak kehilangan arah.
Selamat, Dr. Ayu Muthia. Teruslah membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di alam dengan ketajaman sains dan kejernihan iman. Semoga gelar doktor menjadi jalan menuju ‘ilman nāfi’an: ilmu yang tidak berhenti pada gelar dan publikasi, tetapi tumbuh menjadi manfaat bagi manusia, bangsa, lingkungan, dan peradaban.
Pada akhirnya, perjalanan ilmu adalah perjalanan dari ayat menuju laboratorium, dari laboratorium menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju inovasi, dari inovasi menuju kemanfaatan, dan dari kemanfaatan menuju pengabdian kepada Sang Pencipta.
Alam Takambang Jadi Guru: alam dibaca dengan ilmu, direnungkan dengan iman, diteliti dengan ketekunan, dan dimanfaatkan dengan amanah.21082026.
