GURU SURAU DAN GENERASI UIN IMAM BONJOL
Masa Depan Memerlukan Alumni Perguruan Tinggi Islam
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol Padang
Foto di atas diambil pada sore hari Ahad, 7 Juni 2026, di Kampus III UIN Imam Bonjol Padang, Balai Gadang, Koto Tangah. Saat itu saya bertemu dengan Bustari, S.Pd., M.A., Kepala Sekolah Dasar di Kota Padang, alumni Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Imam Bonjol, yang kini sedang menyelesaikan disertasi pada Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Imam Bonjol.
Pertemuan itu terasa sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Setelah berbincang tentang pendidikan, masa depan generasi muda, dan perkembangan UIN Imam Bonjol, Bustari mengajak berswafoto. Dengan penuh semangat ia menyatakan komitmennya terhadap almamater yang telah membentuk perjalanan intelektual dan pengabdiannya. Saat itu ia sedang menemani putranya mencari lokasi ujian masuk UMPTKIN di Kampus III UIN Imam Bonjol.
Bustari: Guru Surau
Judul kecil di atas diambil dari nama yang ia gunakan pada akun media sosialnya: “Bustari Guru Surau.”
Bagi sebagian orang, gelar akademik dan jabatan formal sering menjadi identitas utama. Namun Bustari memilih identitas yang berbeda. Ia bangga menyebut dirinya sebagai Guru Surau.
Pilihan itu sesungguhnya mengandung makna yang sangat dalam. Dalam tradisi Minangkabau, surau bukan sekadar tempat salat. Surau adalah pusat pendidikan, pembinaan karakter, pembelajaran Al-Qur’an, penguatan adat, serta tempat lahirnya para ulama dan pemimpin masyarakat.
Guru surau bukan hanya mengajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menanamkan akhlak, disiplin, tanggung jawab, dan kecintaan kepada ilmu. Karena itu, ketika seorang kepala sekolah dan calon doktor masih bangga menyebut dirinya guru surau, sesungguhnya ia sedang menjaga mata rantai peradaban yang telah diwariskan para ulama terdahulu.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa banyak alumni UIN Imam Bonjol merupakan pelopor gerakan pendidikan berbasis surau, masjid, dan masyarakat. Mereka hadir sebagai guru, penyuluh, da’i, kepala sekolah, dosen, birokrat, dan tokoh masyarakat yang menjadikan ilmu sebagai sarana pengabdian.
Smart Surau dan Masa Depan Bangsa
Program unggulan Pemerintah Kota Padang melalui Smart Surau merupakan langkah strategis dalam menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat pembentukan generasi.
Surau, masjid, dan mushalla tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah ritual. Lebih dari itu, ia harus menjadi pusat pendidikan karakter, penguatan literasi Al-Qur’an, pembinaan kepemimpinan, pengembangan bakat generasi muda, dan penguatan ketahanan sosial masyarakat.
Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung megah dan teknologi canggih, tetapi juga oleh lembaga yang mampu membentuk karakter dan moral generasinya. Dalam konteks Minangkabau, surau telah terbukti menjadi institusi yang melahirkan ulama, cendekiawan, dan pemimpin bangsa.
Karena itu, program Smart Surau sesungguhnya bukan sekadar program pembangunan fisik atau kegiatan keagamaan semata. Ia adalah investasi peradaban untuk melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan memiliki identitas budaya yang kuat.
Alumni yang Sadar Almamater
Salah satu indikator keberhasilan sebuah perguruan tinggi adalah kecintaan alumninya terhadap almamater.
Kebanggaan itu tampak pada Bustari. Ia tidak hanya mengenang kampus tempat menimba ilmu, tetapi juga mempercayakan masa depan pendidikan anaknya kepada institusi yang sama. Sikap seperti ini menunjukkan adanya ikatan emosional, intelektual, dan spiritual antara alumni dengan almamaternya.
Alumni yang sadar almamater bukan hanya mereka yang mengenang masa kuliah, tetapi mereka yang terus menjaga nama baik kampus, mendukung pengembangannya, serta menjadi duta yang menyebarkan manfaat ilmu di tengah masyarakat.
Beruntung Menjadi Alumni UIN
Suatu ketika seorang guru besar terkemuka di Sumatera Barat berbisik kepada penulis:
“Beruntunglah menjadi alumni UIN. Secara akademik dan legalitas negara, kedudukannya sama dengan lulusan perguruan tinggi umum. Namun lulusan UIN memiliki nilai tambah yang tidak dimiliki semua orang, yaitu kemampuan membimbing masyarakat menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.”
Pernyataan itu mengandung pesan yang mendalam. Alumni UIN tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi tenaga profesional, tetapi juga menjadi agen moral dan agen perubahan sosial. Mereka dituntut menguasai ilmu pengetahuan sekaligus memiliki kepekaan spiritual dan tanggung jawab kemasyarakatan.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, lulusan UIN tidak hanya mengajarkan bagaimana cara hidup yang baik, tetapi juga bagaimana menjalani kehidupan yang bernilai di hadapan Allah SWT.
Masa Depan Memerlukan Alumni Perguruan Tinggi Islam
Di tengah kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, dan globalisasi yang berkembang sangat cepat, dunia menghadapi tantangan baru berupa krisis moral, krisis keluarga, krisis keteladanan, dan krisis kepercayaan publik.
Masa depan bangsa tidak cukup dibangun oleh kecerdasan intelektual semata. Bangsa ini memerlukan manusia yang memiliki integritas, empati, spiritualitas, dan komitmen moral yang kuat.
Di sinilah pentingnya alumni perguruan tinggi Islam.
Perguruan tinggi Islam tidak hanya menghasilkan sarjana yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membentuk manusia yang mampu memadukan ilmu dan iman, profesionalitas dan pengabdian, kecerdasan dan kebijaksanaan.
Alumni perguruan tinggi Islam hadir sebagai guru, dosen, ulama, hakim, birokrat, pengusaha, politisi, peneliti, dan pemimpin masyarakat. Dalam setiap profesi itu mereka membawa misi kemaslahatan, yaitu menghadirkan manfaat bagi sesama manusia sekaligus menjaga nilai-nilai moral dalam kehidupan.
Mereka tidak hanya mengajarkan cara mencari kehidupan yang layak, tetapi juga cara memperoleh kehidupan yang berkah. Mereka tidak hanya membangun peradaban material, tetapi juga membangun peradaban spiritual.
Bangsa ini memerlukan pemimpin yang jujur, guru yang ikhlas, birokrat yang amanah, pengusaha yang beretika, ilmuwan yang bertakwa, dan pendidik yang mampu menjadi teladan. Semua karakter itu merupakan cita-cita luhur pendidikan Islam.
Menjaga Tradisi, Membangun Peradaban
Pertemuan dengan Bustari Guru Surau mengingatkan kita bahwa pendidikan Islam yang kuat selalu memiliki dua akar utama: kampus dan surau.
Kampus memperkaya wawasan ilmiah, metodologi, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Surau membentuk akhlak, spiritualitas, keikhlasan, dan karakter.
Ketika keduanya bertemu dalam diri seorang pendidik, lahirlah generasi yang cerdas pikirannya, kuat akhlaknya, luas pengabdiannya, dan besar manfaatnya.
Bustari Guru Surau hanyalah satu contoh dari ribuan alumni UIN Imam Bonjol yang mengabdi di tengah masyarakat. Mereka menjadi bukti bahwa tradisi surau masih hidup, nilai-nilai Islam masih tumbuh, dan pengabdian kepada umat masih terus berlanjut.
Karena sesungguhnya membangun kampus adalah membangun intelektualitas, tetapi menghidupkan surau adalah membangun peradaban.
Dan karena itulah, di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, masa depan Indonesia tetap memerlukan Guru Surau dan alumni perguruan tinggi Islam yang mampu menjadi penuntun umat menuju kemajuan dunia dan keselamatan akhirat.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Padang, 7 Juni 2026












