INVESTASI KOGNISI BANGSA
(Guru, Kewajiban Belajar, dan Masa Depan Kecerdasan Abad 21)
Oleh: Duski Samad
Guru sejak 1988
Indonesia sedang menghadapi tantangan besar peradaban. Di tengah kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan globalisasi yang bergerak sangat cepat, sesungguhnya bangsa ini sedang diuji pada satu hal paling mendasar: kualitas manusianya.
Karena itu pertanyaan penting pendidikan nasional hari ini bukan lagi sekadar berapa banyak gedung sekolah dibangun atau berapa panjang jalan tol dibentangkan, tetapi sejauh mana bangsa ini mampu membangun kualitas kognisi generasinya.
Bangsa besar lahir dari manusia yang kuat cara berpikirnya.
Dalam psikologi modern, kognisi bukan sekadar kemampuan menghafal atau menjawab soal ujian. Kognisi adalah kemampuan manusia:
memahami, menganalisis, berimajinasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan melahirkan kreativitas baru.
Karena itu masa depan bangsa sesungguhnya ditentukan oleh kualitas berpikir masyarakatnya.
Bangsa yang kuat kognisinya akan menjadi produsen ilmu, teknologi, dan peradaban. Sebaliknya bangsa yang lemah kognisinya hanya akan menjadi pasar dan konsumen peradaban bangsa lain.
Islam sejak awal sesungguhnya telah menjadikan belajar sebagai kewajiban peradaban.
Wahyu pertama yang turun bukan perintah ekonomi atau politik, tetapi perintah membaca: Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.
Perintah iqra’ mengandung makna sangat luas. Ia bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca: kehidupan, sejarah, perubahan zaman, manusia, dan tanda-tanda Allah di alam semesta.
Karena itu belajar dalam Islam bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi proses membangun kesadaran manusia.
Nabi Muhammad SAW bahkan menegaskan: “Menuntut ilmu wajib atas setiap Muslim.”
Artinya belajar bukan pilihan tambahan, tetapi kewajiban moral dan kewajiban peradaban.
Hari ini dunia telah memasuki era kecerdasan abad 21. Era ini ditandai oleh perubahan cepat, digitalisasi, robotik, dan kecerdasan buatan. Banyak pekerjaan lama akan hilang, sementara pekerjaan baru lahir dengan sangat cepat.
Karena itu manusia abad 21 tidak cukup hanya pandai menghafal.
Dunia sekarang membutuhkan manusia yang: berpikir kritis, kreatif, komunikatif, mampu bekerja sama, adaptif terhadap perubahan, dan memiliki kecerdasan emosional serta moral.
Dalam kajian neuroscience modern dijelaskan bahwa otak manusia berkembang optimal ketika pembelajaran berlangsung: kreatif, menyenangkan, penuh makna, dan memberi ruang eksplorasi.
Karena itu pendidikan yang terlalu menekan hafalan dan administrasi justru dapat melemahkan daya pikir dan kreativitas peserta didik.
Kebijakan pendidikan nasional Indonesiap sebenarnya sudah bergerak ke arah itu melalui paradigma Merdeka Belajar dan penguatan karakter. Namun tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan hanya soal kurikulum, melainkan budaya berpikir masyarakat.
Budaya membaca melemah. Rasa ingin tahu menurun. Diskusi ilmiah kalah oleh sensasi mediap sosial. Kedalaman berpikir digeser budaya instan digital.
Akibatnya banyak generasi muda cepat bereaksi tetapi lambat merenung. Cepat berbicara tetapi lemah argumentasi. Mudah tersinggung tetapi kurang daya tahan intelektual.
Padahal bangsa yang maju adalah bangsa yang kuat tradisi berpikirnya.
Karena itu investasi terbesar negara mestinya bukan hanya pada beton dan bangunan fisik, tetapi pada pembangunan kualitas manusia.
Jika negara mengalokasikan anggaran besar untuk memperkuat guru, meningkatkan kualitas pendidikan, membangun literasi, dan memperbaiki ekosistem belajar, sesungguhnya negara sedang membangun masa depan Indonesia.
Korupsi mahal. Kebodohan sosial mahal. Pengangguran mahal. Radikalisme mahal. Kekerasan sosial mahal.
Tetapi pendidikan berkualitas sering dianggap mahal.
Padahal pendidikan adalah investasi paling strategis dalam sejarah bangsa.
Semua kebijakan pendidikan pada akhirnya bertumpu pada guru.
Guru bukan sekadar pengajar kurikulum. Guru adalah penggerak peradaban.
Di tangan guru dibentuk:
cara berpikir generasi, disiplin, karakter, kreativitas, dan arah masa depan bangsa.
Karena itu bangsa maju selalu memuliakan guru.
Finlandia menjadikan guru sebagai profesi intelektual paling bergengsi. Jepang membangun karakter bangsa melalui pendidikan disiplin. Korea Selatan menjadikan pendidikan sebagai jalan kebangkitan nasional pascaperang.
Indonesia juga harus bergerak ke arah itu.
Apalagi di era kecerdasan buatan hari ini, manusia tidak cukup hanya cerdas secara akademik. Mesin mungkin lebih cepat menghitung, tetapi manusia tetap unggul dalam: empati, hikmah, kreativitas, intuisi, moralitas, dan makna kehidupan.
Karena itu pendidikan nasional tidak boleh kehilangan ruh.
Kognisi tanpa akhlak dapat melahirkan manusia cerdas tetapi merusak. Ilmu tanpa moral melahirkan korupsi yang sistematis. Teknologi tanpa nurani melahirkan krisis kemanusiaan.
Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan manusia berpikir: afala ta‘qilun,
afala tatafakkarun,
tetapi juga memerintahkan penyucian jiwa:qad aflaha man zakkaha. Artinya kecerdasan harus melahirkan kemaslahatan.
Minangkabau sejak lama mewariskan falsafah: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Ilmu harus berjalan bersama akhlak. Kemajuan harus berjalan bersama hikmah.
Karena itu investasi terbesar bangsa sesungguhnya bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi pada pembangunan otak, jiwa, dan karakter manusia Indonesia.
Dari guru yang tercerahkan akan lahir generasi yang tercerahkan. Dan dari generasi yang tercerahkan itulah masa depan Indonesia dibangun.ds.










