KRISIS ADAB KEKUASAAN
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Krisis kekuasaan sesungguhnya bukan hanya terjadi ketika pemimpin gagal membangun. Krisis yang lebih serius muncul ketika kekuasaan kehilangan adab: jabatan menjadi prestise, kewenangan menjadi alat kepentingan, pembangunan menjadi panggung pencitraan, dan keberhasilan melahirkan kultus terhadap diri sendiri.
Al-Qur’an menawarkan antitesisnya melalui kisah Dzulqarnain dalam QS Al-Kahfi ayat 83–103. Kisah ini menarik karena Al-Qur’an tidak banyak berbicara tentang identitas pribadi Dzulqarnain. Perhatian justru diarahkan kepada bagaimana ia menggunakan kekuasaan.
Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu” (QS Al-Kahfi [18]:84).
Dua kata penting muncul: makkannā dan sababan. Dzulqarnain memperoleh tamkīn—kekuasaan dan kemampuan—sekaligus sabab, yaitu jalan dan sarana untuk menjalankan kekuasaan. Al-Tabari dan Ibn Kathir menjelaskan sabab sebagai jalan dan perangkat yang memungkinkan seseorang mencapai tujuannya (al-Tabari, Jāmi‘ al-Bayān; Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm).
Pesannya mendasar: kekuasaan bukan milik mutlak pemimpin. Kekuasaan adalah amanah yang diberikan Allah dan dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
Kuasa Harus Bekerja
Setelah memperoleh sabab, Dzulqarnain tidak berdiam diri. Al-Qur’an menyatakan: fa atba‘a sababan—“maka dia menempuh suatu jalan” (QS Al-Kahfi [18]:85).
Kalimat singkat ini mengandung etos kerja. Iman tidak boleh menjadi alasan untuk pasif. Tawakal tidak menggantikan ikhtiar. Doa tidak meniadakan ilmu dan perencanaan.
Dalam dunia modern, sabab dapat berupa pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, data, sumber daya manusia, manajemen, jaringan, bahkan kecerdasan buatan. Pemimpin yang diberikan kewenangan tetapi tidak mampu menggerakkan berbagai sabab tersebut berarti belum mengoptimalkan amanahnya.
Dzulqarnain juga bergerak menemui masyarakat. Ia melihat persoalan, mendengar kebutuhan, lalu mengambil keputusan.
Kepemimpinan seperti ini tidak hanya bekerja dari belakang meja. Ia memerlukan kemampuan mendengar sebelum memutuskan dan memahami sebelum bertindak.
Kekuasaan Bukan Kesempatan Mengambil Keuntungan
Puncak pelajaran kepemimpinan muncul ketika Dzulqarnain bertemu masyarakat yang terancam Ya’juj dan Ma’juj. Mereka meminta perlindungan dan menawarkan pembayaran.
Jawabannya mengejutkan:
“Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku lebih baik.”
(QS Al-Kahfi [18]:95).
Dzulqarnain memiliki kesempatan mengambil keuntungan dari ketakutan masyarakat, tetapi ia menolaknya.
Inilah adab kekuasaan.
Kelemahan rakyat tidak boleh menjadi kesempatan memperkaya diri. Bencana tidak boleh menjadi proyek kepentingan. Kemiskinan tidak boleh dipelihara sebagai komoditas politik. Bantuan sosial tidak boleh berubah menjadi alat membangun ketergantungan dan loyalitas pribadi.
Kekuasaan hadir justru ketika masyarakat membutuhkan perlindungan.
Menariknya, Dzulqarnain kemudian berkata:
“Maka bantulah aku dengan kekuatan.”
Rakyat tidak diposisikan sebagai penonton. Mereka diajak bekerja bersama.
Di sinilah Al-Qur’an memperlihatkan embrio pembangunan partisipatif: pemimpin membawa visi, ilmu dan otoritas; masyarakat menghadirkan tenaga, partisipasi dan modal sosial.
Teknologi untuk Kemaslahatan
Dzulqarnain kemudian menggunakan potongan besi dan qithr, yang umumnya ditafsirkan sebagai tembaga cair, untuk membangun penghalang (QS Al-Kahfi [18]:96).
Pesannya relevan dengan zaman digital. Persoalan masyarakat tidak cukup diselesaikan dengan pidato, slogan, spanduk dan seremoni. Dzulqarnain menggunakan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan masalah nyata.
Karena itu Islam tidak seharusnya dipertentangkan dengan kemajuan teknologi. Pertanyaan yang lebih penting ialah: untuk siapa teknologi digunakan?
Kecerdasan buatan, media digital, big data dan berbagai teknologi baru dapat menjadi sabab peradaban. Namun tanpa adab, teknologi yang sama dapat menyebarkan fitnah, pornografi, penipuan, manipulasi dan kerusakan sosial.
Teknologi membutuhkan ilmu. Ilmu membutuhkan adab. Adab membutuhkan iman.
“Ini Rahmat dari Tuhanku”
Setelah pembangunan besar tersebut selesai, Dzulqarnain tidak membuat monumen untuk mengabadikan dirinya. Tidak pula Al-Qur’an mencatat ia berkata, “Ini keberhasilan saya.”
Kalimatnya justru:
“Hādzā raḥmatun min rabbī”—“Ini adalah rahmat dari Tuhanku.”
(QS Al-Kahfi [18]:98).
Di sinilah perbedaan antara pemimpin besar dan pemimpin yang sekadar membesarkan dirinya.
Kekuasaan mudah melahirkan ilusi bahwa keberhasilan negara, organisasi atau lembaga merupakan jasa seorang tokoh. Padahal setiap keberhasilan melibatkan banyak orang, sistem, ilmu, sumber daya dan pertolongan Allah.
Kesadaran hādzā raḥmatun min rabbī adalah obat terhadap narsisme kekuasaan.
Bahkan Dzulqarnain mengakui bahwa benteng yang sangat kokoh itu suatu saat akan hancur ketika ketetapan Allah datang. Teknologi mempunyai batas. Kekuasaan mempunyai batas. Jabatan mempunyai batas. Kehidupan pun mempunyai batas.
Ketika Orang Salah Merasa Paling Benar
Setelah berbicara tentang kekuasaan, teknologi dan pembangunan, Al-Qur’an mengarahkan manusia kepada akhirat. Ayat 103 bertanya:
“Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
Ayat berikutnya menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang usahanya tersesat dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya (QS Al-Kahfi [18]:103–104).
Inilah krisis kekuasaan yang paling berbahaya: bukan ketika pemimpin melakukan kesalahan, tetapi ketika kekuasaan membuatnya tidak lagi mampu mendengar bahwa dirinya mungkin salah.
Karena itu kekuasaan membutuhkan kritik. Pemimpin membutuhkan penasihat. Kebijakan membutuhkan evaluasi. Tradisi membutuhkan tashih. Ilmu membutuhkan etika. Agama membutuhkan mau‘izhah yang berani mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah.
Kisah Dzulqarnain akhirnya mengajarkan satu rumus sederhana:
Kuasa tanpa iman melahirkan kesombongan.
Kuasa tanpa ilmu melahirkan kekeliruan.
Kuasa tanpa keadilan melahirkan kezaliman.
Teknologi tanpa adab melahirkan kerusakan.
Keberhasilan tanpa syukur melahirkan kultus diri.
Indonesia tidak kekurangan orang yang ingin menjadi pemimpin. Yang selalu dibutuhkan bangsa adalah kepemimpinan yang memahami bahwa jabatan bukan kesempatan memperbesar diri.
Dzulqarnain mengingatkan: kebesaran seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa luas kuasa yang dapat ia genggam, tetapi seberapa luas rahmat yang dapat dirasakan rakyat karena kekuasaannya.04102026.

