PESANTREN LAMA
Antara Nasab, Yayasan, Sistem dan Gen Z
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Santri 1973–1980
Pesantren lama adalah khazanah besar pendidikan Islam Indonesia. Ia tidak lahir dari desain birokrasi, tidak pula tumbuh pertama kali karena kekuatan modal. Pesantren lahir dari ilmu, keteladanan, keikhlasan, perjuangan ulama, dan kepercayaan masyarakat.
Saya menulis refleksi ini bukan sebagai orang yang hanya melihat pesantren dari luar, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang pesantren. Saya pernah menjadi santri pada tahun 1973–1980, merasakan langsung kehidupan pondok, tradisi belajar, hubungan Buya dan santri, suasana keilmuan, kedisiplinan, serta nilai-nilai yang membentuk karakter.
Pesantren pada masa itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Kesederhanaan, kepatuhan kepada guru, kedalaman ilmu agama, hidup bersama dalam suasana ukhuwah, dan pembentukan akhlak menjadi ciri utama. Banyak ulama besar lahir dari lingkungan pesantren yang sederhana.
Namun zaman berubah. Tantangan pesantren lama hari ini bukan lagi hanya bagaimana menjaga tradisi, tetapi bagaimana memastikan tradisi tersebut tetap hidup dan relevan bagi generasi baru.
Di sinilah pesantren lama berhadapan dengan tiga kata kunci: nasab, yayasan, dan sistem.
Nasab: Kekuatan Sejarah dan Amanah Perjuangan
Banyak pesantren lama memiliki hubungan kuat dengan nasab pendirinya. Nama pesantren sering melekat dengan nama seorang kiai atau Buya. Masyarakat menghormati keluarga pendiri karena mereka membawa jejak perjuangan, sanad keilmuan, dan sejarah panjang lembaga.
Nasab dalam pesantren bukan sekadar hubungan darah. Ia adalah simbol kesinambungan nilai, penghormatan terhadap pendiri, dan amanah untuk menjaga cita-cita awal pesantren.
Namun nasab tidak boleh dipahami sebagai satu-satunya modal keberlanjutan.
Nasab memberikan kehormatan sejarah, tetapi pesantren membutuhkan kemampuan untuk menjawab perubahan zaman. Anak keturunan kiai memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan, tetapi keberhasilan kepemimpinan tetap membutuhkan ilmu, kapasitas, akhlak, dan kemampuan mengelola lembaga.
Nasab menjaga identitas, tetapi kompetensi menjaga keberlangsungan.
Yayasan: Legalitas dan Tantangan Pengelolaan
Perkembangan pesantren kemudian mendorong lahirnya yayasan sebagai bentuk kelembagaan modern. Yayasan memberikan kepastian hukum, pengelolaan aset, sistem administrasi, peluang kerja sama, dan perlindungan terhadap keberlangsungan pesantren.
Namun perubahan dari pesantren berbasis figur menuju yayasan berbasis organisasi juga menghadirkan tantangan.
Pesantren yang dahulu sangat bergantung kepada figur harus belajar membangun tata kelola. Hubungan emosional antara buya santri, dan masyarakat perlu dilengkapi dengan sistem administrasi, manajemen, dan akuntabilitas.
Yayasan bukanlah pemilik mutlak pesantren. Yayasan adalah pengelola amanah.
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki tanggung jawab sosial kepada umat.
Karena itu, yayasan harus mampu menjaga keseimbangan: menghormati sejarah pendiri, menjaga nilai pesantren, tetapi juga menjalankan pengelolaan secara profesional.
Sistem: Kunci Pesantren Bertahan
Tantangan terbesar pesantren lama saat ini adalah membangun sistem.
Pesantren yang hanya bergantung pada figur kiai akan menghadapi persoalan ketika terjadi pergantian generasi. Kiai tetap menjadi ruh pesantren, tetapi sistem menjadi kendaraan agar ruh itu terus berjalan.
Pesantren masa depan membutuhkan:
– kaderisasi pimpinan,
– tata kelola yang jelas,
– pengelolaan keuangan yang sehat,
– kurikulum yang relevan,
– pengembangan teknologi,
– lingkungan belajar yang nyaman,
– serta kemampuan memahami karakter generasi baru.
Sebab pesantren tidak hanya mendidik santri masa lalu. Pesantren harus mendidik generasi masa depan.
Keluhan Pesantren Lama: Santri Tidak Bertahan Lama
Salah satu kegelisahan yang sering muncul di pesantren lama hari ini adalah semakin banyak santri yang tidak bertahan lama.
Ada santri yang masuk pesantren, menyelesaikan jenjang Tsanawiyah tiga tahun, lalu memilih pindah ke sekolah lain atau lembaga pendidikan berbeda. Fenomena ini tentu perlu menjadi bahan evaluasi.
Pertanyaannya bukan sekadar mengapa santri pindah, tetapi:
Apakah pesantren sudah cukup memahami kebutuhan generasi baru?
Generasi milenial dan Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi santri tahun 1970-an atau 1980-an. Mereka hidup dalam dunia digital, terbiasa dengan informasi cepat, membutuhkan ruang kreativitas, komunikasi yang dialogis, dan lingkungan belajar yang lebih adaptif.
Sementara sebagian pesantren lama masih mempertahankan pola lama yang sangat berpusat pada figur, dengan pendekatan yang kadang kaku, satu arah, dan kurang memberi ruang ekspresi bagi perkembangan psikologis santri.
Dahulu santri bertahan karena kekuatan kharisma kiai, kedisiplinan tinggi, dan budaya kepatuhan. Namun generasi sekarang membutuhkan tambahan pendekatan: keteladanan, dialog, pendampingan, inovasi, serta lingkungan pondok yang sehat dan menyenangkan.
Pesantren tidak boleh kehilangan disiplin, tetapi disiplin harus disampaikan dengan pendekatan pendidikan.
Pesantren tidak boleh kehilangan adab, tetapi adab harus ditanamkan dengan kasih sayang.
Pesantren tidak boleh kehilangan tradisi, tetapi tradisi harus mampu berbicara kepada zaman.
Dari Pesantren Berbasis Figur Menuju Pesantren Berbasis Peradaban
Kelemahan sebagian pesantren lama bukan karena tradisinya salah. Justru tradisi pesantren adalah kekuatan besar yang harus dijaga.
Yang perlu diperbaiki adalah cara menghidupkan tradisi itu.
Pesantren perlu bergerak:
Dari sekadar mengandalkan figur menuju membangun sistem.
Dari pola komunikasi satu arah menuju pembinaan yang dialogis.
Dari lingkungan pondok yang kaku menuju lingkungan yang disiplin tetapi ramah.
Dari pendidikan yang hanya mengejar tamat menuju pendidikan yang membangun karakter dan masa depan.
Santri hari ini bukan hanya membutuhkan ilmu agama. Mereka juga membutuhkan kemampuan bahasa, teknologi, kepemimpinan, kreativitas, kewirausahaan, dan kesiapan menghadapi dunia global.
Pesantren yang kuat adalah pesantren yang mampu menggabungkan:
kitab kuning dan teknologi,
sanad keilmuan dan inovasi,
adab dan profesionalisme,
tradisi dan masa depan.
Harmoni Nasab, Yayasan, dan Sistem
Masa depan pesantren lama bukan dengan memilih salah satu antara nasab, yayasan, atau sistem.
Ketiganya harus berjalan bersama.
Nasab menjaga kehormatan sejarah.
Yayasan menjaga legalitas kelembagaan.
Sistem menjaga keberlanjutan.
Nasab tanpa sistem dapat melahirkan stagnasi.
Yayasan tanpa ruh keilmuan dapat kehilangan makna.
Sistem tanpa nilai dapat menghasilkan lembaga yang maju secara administratif tetapi kehilangan keberkahan.
Pesantren lama harus berani melakukan muhasabah.
Jangan hanya bertanya mengapa santri pergi.
Tanyakan juga apakah pesantren sudah cukup memahami dunia santri hari ini.
Jangan hanya mempertahankan cara lama.
Tanyakan apakah cara lama masih efektif untuk tujuan pendidikan yang sama.
Sebab hakikat pesantren bukan sekadar mempertahankan bangunan, nama besar, atau tradisi masa lalu.
Hakikat pesantren adalah melahirkan manusia berilmu, beradab, dekat dengan Allah, dan mampu memberi manfaat bagi zaman.
Maka pesantren lama harus tetap menjadi cahaya.
Bukan hanya karena panjang sejarahnya.
Tetapi karena kemampuannya menerangi masa depan.
Hormati nasabnya.
Perkuat yayasannya.
Bangun sistemnya.
Pahami generasi barunya.
Jaga ruh pesantrennya. 08082026








