SENSASI “BA GAJI TAK BA KARAJO”
Pensiun: Dari Rutinitas Kerja Menuju Ibadah Sepanjang Hayat
Oleh: Duski Samad
Syukuran Memasuki Pensiun Zulfahmi HB 11062026
Belakangan ini ungkapan “ba gaji tak ba karajo” menjadi perbincangan di berbagai tempat. Ada yang menggunakannya sebagai kritik sosial, ada pula yang menjadikannya bahan sindiran kepada orang-orang yang dianggap menerima penghasilan tanpa memberikan kontribusi yang sepadan. Dalam batas tertentu, kritik semacam itu dapat menjadi pengingat tentang pentingnya amanah dan tanggung jawab. Namun persoalan ini perlu dipahami secara lebih arif, terutama ketika dikaitkan dengan mereka yang telah memasuki usia lanjut dan masa pensiun.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa usia yang panjang membawa konsekuensi berkurangnya kekuatan fisik manusia. Allah SWT berfirman:
> وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada keadaan yang lemah. Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 68).
Ayat ini menjelaskan bahwa menurunnya tenaga, kesehatan, dan kemampuan fisik pada usia lanjut adalah hukum alam yang ditetapkan Allah. Tidak ada manusia yang mampu melawan sunnatullah tersebut. Mereka yang dahulu kuat berjalan jauh, aktif memimpin rapat, mengajar berjam-jam, atau bekerja dari pagi hingga malam, suatu saat akan mengalami keterbatasan yang tidak dapat dihindari.
Karena itu, memasuki masa pensiun tidak dapat dipahami sebagai kemunduran atau ketidakbergunaan. Pensiun hanyalah perpindahan fase kehidupan. Jika pada masa muda seseorang mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk pekerjaan formal, maka pada masa tua Allah membuka ruang yang lebih luas untuk pengabdian yang bersifat spiritual, sosial, dan intelektual.
Sayangnya, ukuran keberhasilan manusia modern sering kali hanya diukur dari aktivitas formal dan jabatan. Ketika seseorang tidak lagi datang ke kantor setiap hari, sebagian orang menganggapnya tidak produktif. Padahal dalam banyak kasus, justru pada usia lanjut seseorang mencapai kematangan berpikir, keluasan pengalaman, dan kedalaman hikmah yang tidak dimiliki generasi yang lebih muda.
Banyak ulama besar menghasilkan karya-karya monumental pada usia senja. Banyak tokoh masyarakat menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat setelah mereka tidak lagi menduduki jabatan. Banyak guru yang setelah pensiun justru lebih aktif mengajar Al-Qur’an, membina masyarakat, menulis, berdakwah, dan memakmurkan masjid.
Dalam perspektif Islam, masa pensiun sesungguhnya bukan masa berhenti bekerja, melainkan masa memperluas makna kerja. Jika sebelumnya bekerja untuk institusi, kini bekerja untuk umat. Jika sebelumnya mengejar target administrasi, kini mengejar keberkahan dan kemanfaatan. Jika sebelumnya orientasinya gaji, kini orientasinya pahala.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa manusia terbaik adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Manfaat itu tidak selalu lahir dari jabatan, kantor, atau posisi formal. Seorang pensiunan yang mengajar mengaji anak-anak kampung, membimbing keluarga, menjadi penengah konflik masyarakat, atau menulis ilmu yang diwariskan kepada generasi berikutnya, sesungguhnya sedang menjalankan pekerjaan besar di sisi Allah SWT.
Masa pensiun juga merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk memperbanyak ibadah. Selama masa aktif bekerja, banyak orang mengeluhkan sempitnya waktu untuk membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, berdzikir, melakukan qiyamul lail, atau memperdalam pemahaman agama. Ketika Allah memberikan usia panjang dan mengurangi kesibukan duniawi, sesungguhnya Allah sedang memberikan peluang untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya.
Karena itu, pensiun seharusnya dipandang sebagai masa transisi dari kesibukan dunia menuju kedalaman makna hidup. Dari orientasi karier menuju orientasi akhirat. Dari penghargaan manusia menuju pencarian ridha Allah SWT.
Ungkapan “ba gaji tak ba karajo” mungkin tepat ditujukan kepada mereka yang mengabaikan amanah ketika masih aktif bekerja. Namun bagi mereka yang telah menunaikan tugas dengan baik dan memasuki masa pensiun secara terhormat, kehidupan tidak berhenti pada berakhirnya masa kerja. Mereka hanya berpindah dari ruang pengabdian yang satu ke ruang pengabdian yang lain.
Sebab dalam pandangan Islam, selama napas masih berhembus, selama akal masih berfungsi, dan selama hati masih berzikir kepada Allah, maka pengabdian tidak pernah berakhir. Pensiun hanyalah akhir dari pekerjaan formal, bukan akhir dari amal saleh.
Maka benar kiranya jika dikatakan bahwa masa pensiun adalah perjalanan dari rutinitas kerja menuju ibadah sepanjang hayat, dari jabatan menuju kebijaksanaan, dan dari gaji menuju pahala yang terus mengalir hingga akhir kehidupan. Wallahu a’lam.ds.11062026.








