TRANSFORMASI DUNIA DAKWAH DI INDONESIA

TRANSFORMASI DUNIA DAKWAH DI INDONESIA:
(Dari Mimbar Konvensional Menuju Mubaligh Digital dan Dai Transformatif)

Oleh: Duski Samad
Pegiat Tabligh Sejak 1978.

Dakwah Memasuki Ruang Baru

Dunia dakwah di Indonesia sedang mengalami transformasi besar. Pada masa lalu, otoritas dan popularitas seorang mubaligh terutama dibangun melalui pengajian di masjid, majelis taklim, pesantren, kampus, dan organisasi keagamaan. Jangkauan dakwah ditentukan oleh jumlah jamaah yang hadir secara langsung, kekuatan jaringan lembaga yang mengundang, serta intensitas perjalanan mubaligh dari satu mimbar ke mimbar lainnya.

Kini ruang dakwah tidak lagi dibatasi oleh mimbar dan bangunan masjid. Ceramah yang disampaikan di sebuah surau kecil dapat disaksikan jutaan orang melalui YouTube, Instagram, Facebook, TikTok, dan WhatsApp. Seorang mubaligh tidak hanya berhadapan dengan jamaah yang hadir secara fisik, tetapi juga dengan jamaah digital yang tersebar lintas daerah, generasi, profesi, organisasi, bahkan negara.

Perubahan ini bukan sekadar perpindahan media dari mimbar ke layar. Dunia digital telah mengubah cara masyarakat menemukan guru, memperoleh pengetahuan agama, menilai otoritas keagamaan, memilih tema kajian, dan menyebarkan kembali pesan-pesan dakwah. Karena itu, para dai dituntut melakukan transformasi dalam tiga bidang sekaligus, yaitu metode, materi, dan media dakwah.

Fenomena Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, dan Ustaz Das’ad Latif memperlihatkan tiga corak penting transformasi tersebut. Ketiganya mempunyai latar belakang, kompetensi, gaya komunikasi, dan basis jaringan sosial yang berbeda. Namun, mereka dipertemukan oleh kemampuan menghubungkan otoritas keilmuan, komunikasi publik, sikap keagamaan yang moderat, kedekatan dengan masyarakat, dan kekuatan publikasi digital.

Ustaz Abdul Somad: Turats, Istiqamah, dan Kedekatan Umat

Kekuatan utama Ustaz Abdul Somad, yang populer dengan sebutan UAS, terletak pada penguasaan khazanah keislaman klasik atau turats. Pengalaman pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Mesir, dan Dar al-Hadith al-Hassania, Maroko, membentuk kapasitasnya dalam bidang hadis, fikih, bahasa Arab, dan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah.

Namun, pengetahuan kitab saja tidak otomatis menjadikan seseorang diterima masyarakat luas. Kekuatan UAS justru terlihat pada kemampuannya menerjemahkan persoalan fikih dan hadis ke dalam bahasa masyarakat. Ia dapat menyebutkan rujukan kitab dan pendapat ulama, tetapi tetap menyampaikannya melalui humor, perumpamaan, dan pengalaman sehari-hari yang mudah dipahami.

Kekuatan lainnya adalah sikap istiqamah dalam menyampaikan pokok-pokok ajaran yang diyakininya. Istiqamah melahirkan konsistensi identitas. Publik mengenal corak keilmuan, pilihan metodologis, dan sikap keagamaannya. Konsistensi tersebut kemudian membangun kepercayaan jamaah.

Model dakwah UAS mempertemukan turats yang kuat, sikap yang teguh, bahasa yang dekat, dan jaringan umat yang luas. Media digital selanjutnya memperbesar jangkauan dakwahnya. Potongan ceramah yang singkat, jawaban fikih yang langsung, dan humor yang mudah diingat beredar melalui akun resmi maupun unggahan ulang netizen. Publik tidak lagi hanya menjadi penerima dakwah, tetapi juga menjadi penyambung lidah dan distributor pesan keagamaan.

Ustaz Adi Hidayat: Al-Qur’an, Sistematika, dan Ekosistem Pengetahuan

Ustaz Adi Hidayat atau UAH merepresentasikan model dakwah yang bertumpu pada penguasaan Al-Qur’an, hadis, bahasa Arab, dan sistematika penyampaian. Salah satu ciri khasnya adalah kemampuan menghubungkan ayat, nomor surah, tema, dan konteks pembahasan secara terstruktur.

UAH tidak berhenti pada ceramah motivasional. Ia membangun suasana dakwah sebagai proses pembelajaran. Penggunaan papan tulis, skema, penjelasan istilah, dan hubungan antardalil menjadikan ceramahnya menyerupai ruang kelas terbuka. Jamaah ditempatkan sebagai pembelajar, bukan sekadar pendengar.

Keterhubungannya dengan Muhammadiyah turut memberikan basis kelembagaan bagi aktivitas dakwahnya. Namun, penerimaan terhadap kajiannya tidak terbatas pada warga Muhammadiyah. Penguasaan materi dan pendekatan yang sistematis memungkinkan dakwahnya diterima oleh kalangan yang lebih luas.

UAH juga mengembangkan lembaga pendidikan dan jaringan pengkajian. Dakwah dengan demikian tidak berhenti pada ketokohan pribadi, tetapi bergerak menuju pembentukan ekosistem pengetahuan yang meliputi pembelajaran, kaderisasi, produksi materi, dokumentasi, dan distribusi konten.

Model dakwah UAH menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat, sistematika sebagai metode, pendidikan sebagai orientasi, dan kelembagaan sebagai penguat keberlanjutan. Inilah salah satu bentuk transformasi dari dakwah yang bergantung kepada figur menuju dakwah yang ditopang oleh sistem pengetahuan.

Ustaz Das’ad Latif: Komunikasi, Humor, dan Ruang Publik

Ustaz Das’ad Latif memperlihatkan kekuatan dakwah komunikatif. Latar belakang akademiknya dalam bidang komunikasi turut memengaruhi cara menyampaikan pesan. Ia mampu mengubah persoalan agama, keluarga, moral, pelayanan publik, dan kehidupan sosial menjadi pesan yang singkat, tajam, lucu, tetapi tetap mengandung kritik.

Humor dalam dakwah Das’ad Latif bukan sekadar alat menghibur. Humor berfungsi menurunkan jarak psikologis antara mubaligh dan jamaah. Setelah suasana menjadi terbuka, pesan moral disampaikan secara tegas. Masyarakat dapat tertawa, tetapi pada saat yang sama merasa sedang diingatkan, disentuh, dan dikoreksi.

Jangkauan dakwahnya melintasi banyak kelompok sosial dan ruang kelembagaan. Ia hadir di masjid, kampus, kantor pemerintahan, lingkungan TNI–Polri, perusahaan, dan berbagai forum masyarakat. Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan memasuki beragam ruang publik serta menyesuaikan bahasa dengan karakter jamaah.

Model dakwah Das’ad Latif mempertemukan kemampuan komunikasi, humor yang membumi, kritik sosial yang langsung, dan kecakapan menjangkau berbagai institusi. Ia memperlihatkan bahwa pesan agama yang berat dapat disampaikan secara ringan tanpa kehilangan substansinya.

Tiga Model Otoritas Dakwah

Ketiga mubaligh tersebut memperlihatkan bahwa otoritas dakwah kontemporer tidak lahir dari satu sumber. Ustaz Abdul Somad memperoleh kekuatan dari penguasaan turats, hadis, dan fikih, kemudian mengomunikasikannya secara tegas, argumentatif, dan humoris. Jaringannya tumbuh melalui jamaah, pesantren, majelis pengajian, dan media sosial.

Ustaz Adi Hidayat memperkuat otoritasnya melalui penguasaan Al-Qur’an dan sistematika keilmuan. Corak dakwahnya edukatif, tekstual, dan terstruktur, dengan dukungan lembaga pendidikan, jaringan pengkajian, serta Muhammadiyah.

Ustaz Das’ad Latif mengembangkan otoritas melalui ilmu komunikasi dan kepekaan terhadap persoalan sosial. Corak dakwahnya populer, kritis, dan humoris, serta diperkuat oleh kemampuan menjangkau media dan berbagai ruang kelembagaan publik.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa dakwah Indonesia tidak perlu diseragamkan. Ada jamaah yang memerlukan kekuatan rujukan turats. Ada yang menyukai kajian Al-Qur’an secara sistematis. Ada pula yang lebih mudah disentuh melalui humor dan kritik terhadap kehidupan sehari-hari.

Ketiganya diterima masyarakat karena mampu menyampaikan identitas keagamaan dengan bahasa yang relatif moderat dan merakyat. Moderasi tidak berarti mengaburkan keyakinan. Moderasi adalah kemampuan menyampaikan keyakinan secara teguh tanpa bersikap kasar, berpegang pada dalil sambil memahami keadaan masyarakat, serta menghindari kebiasaan mudah mengafirkan, menyesatkan, atau memusuhi pihak lain.

Netizen sebagai Jamaah dan Penyambung Lidah

Transformasi terbesar dalam dakwah digital terletak pada berubahnya posisi jamaah. Dalam dakwah konvensional, jamaah terutama berfungsi sebagai pendengar. Dalam dakwah digital, jamaah sekaligus dapat menjadi produsen, editor, komentator, dan penyebar konten.

Netizen merekam ceramah, memilih bagian yang dianggap menarik, memberi judul, menambahkan teks, lalu menyebarkannya. Satu ceramah berdurasi satu jam dapat berubah menjadi puluhan video pendek. Setiap potongan kemudian memasuki kelompok audiens yang berbeda.

Fenomena tersebut melahirkan otoritas keagamaan digital. Seorang mubaligh dapat dikenal secara nasional bukan karena sering tampil di televisi, tetapi karena ceramahnya terus direproduksi dan disebarkan oleh masyarakat. Dalam ekosistem baru ini, netizen berfungsi sebagai jamaah sekaligus jaringan publikasi.

Akan tetapi, dukungan netizen juga membawa risiko. Potongan ceramah dapat dipisahkan dari konteksnya. Judul sensasional dapat mengubah maksud pembicara. Algoritma media sosial cenderung mengutamakan materi yang mengejutkan, lucu, kontroversial, dan membangkitkan emosi. Akibatnya, kedalaman ilmu dapat kalah oleh potongan pendek yang viral.

Mubaligh digital karena itu memerlukan tim yang mampu menjaga keutuhan dan autentisitas materi, ketepatan judul dan konteks, pengelolaan akun resmi, dokumentasi ceramah secara lengkap, verifikasi dalil, etika interaksi, keamanan data, dan hak cipta. Perkembangan kecerdasan buatan juga menuntut perlindungan terhadap manipulasi suara, gambar, video, dan berbagai bentuk deepfake yang dapat merusak nama baik seorang dai.

Workshop Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif

Kesadaran mengenai perubahan dunia dakwah tersebut mengemuka dalam Workshop Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif yang diselenggarakan Imam Jazuli Foundation di Pesantren Bina Insan Mulia pada 13 September 2026.

Forum ini menghadirkan Ketua Umum MUI Pusat sekaligus anggota Ahlul Halli wal Aqdi Muktamar NU, Kiai Anwar Iskandar; pakar branding dan ekonomi digital nasional, Gus Ipang Wahid; pengasuh Pesantren Daarul Qur’an, Ustaz Yusuf Mansur; serta pendakwah hijrah dan figur publik, Arie Untung.

Kehadiran para narasumber tersebut memperlihatkan bahwa transformasi dakwah memerlukan pertemuan beberapa kekuatan sekaligus: otoritas ulama, kelembagaan umat, kecakapan komunikasi, ekonomi digital, pengalaman pesantren, dan kemampuan menjangkau generasi baru.

Dalam forum tersebut dibicarakan berbagai perubahan dunia dakwah di Indonesia. Salah satu kesepahaman pentingnya adalah bahwa para dai harus melakukan transformasi dalam metode, materi, dan media agar dakwah tetap relevan serta adaptif terhadap perkembangan zaman.

Workshop angkatan pertama diikuti sekitar 700 peserta. Dalam jangka lebih luas, program ini menargetkan 5.000 pendakwah dari berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan para dai terhadap peningkatan kapasitas dalam menghadapi masyarakat yang berubah cepat.

Keseriusan dan komitmen peserta untuk belajar, berubah, serta menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi melahirkan optimisme terhadap masa depan dakwah Indonesia. Para dai mulai menyadari bahwa mempertahankan substansi ajaran tidak berarti menolak pembaruan metode. Nilai Islam tetap dijaga, tetapi cara menyampaikannya harus memahami bahasa dan kebutuhan zaman.

Peran MUI, PBNU, Muhammadiyah, dan Ormas Islam

Perubahan disruptif tidak cukup dijawab melalui kreativitas individual para dai. MUI, PBNU, Muhammadiyah, PERTI, Dewan Dakwah, DMI, dan organisasi Islam lainnya perlu mengambil peran yang lebih terstruktur dalam membimbing dan mengadvokasi mubaligh.

MUI dapat menyusun standar etik dakwah digital, pedoman verifikasi materi, dan perlindungan terhadap dai yang menghadapi persoalan hukum. Ormas Islam dapat menyiapkan kader, mentor, pusat produksi konten, serta jaringan distribusi. Perguruan tinggi dapat memperkuat riset tentang perilaku jamaah digital, efektivitas komunikasi, dan perubahan otoritas keagamaan. Pesantren harus tetap menjaga kedalaman ilmu, sanad, adab, dan kesinambungan tradisi keilmuan.

Kolaborasi tersebut penting karena dunia digital tidak hanya membuka peluang dakwah, tetapi juga menghadirkan pasar perhatian yang sangat kompetitif. Dai tidak hanya berhadapan dengan sesama penceramah. Mereka juga berhadapan dengan industri hiburan, promosi komersial, budaya populer, ideologi ekstrem, informasi palsu, dan banjir konten yang datang tanpa henti.

Organisasi Islam tidak seharusnya hanya tampil sebagai pengawas atau penertib dai. Organisasi keagamaan harus menjadi rumah pembinaan, perlindungan, peningkatan kompetensi, dan inovasi dakwah.

Mubaligh Digital Bukan Sekadar Mubaligh Viral

Mubaligh digital bukan hanya penceramah yang mempunyai banyak pengikut. Ia adalah dai yang memahami bahwa ruang digital memiliki bahasa, budaya, peluang, dan bahaya tersendiri.

Seorang mubaligh digital pertama-tama harus mempunyai kompetensi keilmuan. Popularitas tidak dapat menggantikan penguasaan Al-Qur’an, hadis, fikih, akidah, sejarah, dan realitas sosial. Tanpa fondasi ilmu, dakwah mudah berubah menjadi pendapat pribadi yang dibungkus dengan simbol agama.

Mubaligh digital juga membutuhkan kompetensi komunikasi. Materi yang benar harus disampaikan dengan bahasa yang jelas, manusiawi, dan sesuai dengan tingkat pemahaman audiens. Kebenaran yang disampaikan dengan cara kasar dapat ditolak, sedangkan pesan yang baik tetapi tidak jelas dapat kehilangan makna.

Kompetensi berikutnya adalah kemampuan membaca konteks. Dai perlu memahami persoalan keluarga, generasi muda, ekonomi, kesehatan mental, lingkungan, kebangsaan, teknologi, dan perubahan sosial. Dakwah tidak cukup hanya menjawab persoalan masa lalu, tetapi harus hadir dalam kecemasan dan persoalan nyata manusia hari ini.

Literasi digital juga menjadi keharusan. Dai harus memahami karakter platform, algoritma, keamanan data, manipulasi video, kecerdasan buatan, dan penyebaran informasi palsu. Tanpa literasi digital, seorang mubaligh dapat menjadi korban atau bahkan tanpa sengaja menjadi penyebar disinformasi.

Semua kompetensi tersebut harus disertai dengan moderasi keagamaan dan integritas akhlak. Dunia digital menyimpan jejak panjang. Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan dapat menghancurkan kepercayaan publik dengan cepat. Karena itu, akhlak bukan hanya isi ceramah, melainkan fondasi kredibilitas seorang dai.

Dari Personal Branding Menuju Ekosistem Dakwah

Dunia digital memang memerlukan personal branding. Publik perlu mengenali kompetensi, corak, dan karakter seorang dai. Akan tetapi, dakwah tidak boleh berhenti pada pencitraan personal.

Tantangan dakwah Indonesia ke depan adalah mengubah keberhasilan individu menjadi kekuatan institusional. Ketokohan Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Das’ad Latif, Ustaz Yusuf Mansur, dan figur dakwah lainnya sangat penting. Namun, masa depan dakwah tidak boleh bergantung selamanya pada beberapa orang.

Diperlukan lembaga yang menyiapkan kader, pusat produksi konten, perpustakaan digital, tim verifikasi dalil, riset kebutuhan jamaah, penerjemahan materi, bantuan hukum, manajemen krisis, dan sistem regenerasi. Dakwah digital juga harus terhubung dengan kerja nyata dalam pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendampingan keluarga, pelestarian lingkungan, dan penguatan kerukunan.

Transformasi sejati terjadi ketika teknologi tidak hanya memperbesar suara mubaligh, tetapi juga memperbesar manfaat dakwah. Teknologi harus menjadi jalan untuk menghadirkan ilmu, rahmat, pelayanan, dan perubahan sosial.

Dari Dai Populer Menuju Dai Transformatif

Dai populer mampu menarik perhatian. Dai digital mampu menggunakan teknologi. Namun, dai transformatif bergerak lebih jauh. Ia mampu mengubah pengetahuan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi sikap, dan sikap menjadi perubahan sosial.

Dai transformatif tidak hanya mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut, penonton, tanda suka, dan video yang viral. Keberhasilannya terlihat dari perubahan nyata dalam kehidupan umat. Keluarga menjadi lebih harmonis, generasi muda mempunyai arah, masyarakat semakin berilmu, ekonomi umat bertumbuh, lingkungan terjaga, perbedaan dikelola secara dewasa, dan kelompok lemah memperoleh pendampingan.

Transformasi dakwah berlangsung melalui perjalanan dari mimbar menuju media, dari media menuju ekosistem, dan dari ekosistem menuju transformasi sosial. Mimbar menyampaikan pesan. Media memperluas jangkauan. Ekosistem menjaga kesinambungan. Transformasi sosial membuktikan manfaat dakwah.

Masa Depan Dakwah Indonesia

Ustaz Abdul Somad, Ustaz Adi Hidayat, dan Ustaz Das’ad Latif memperlihatkan tiga jalan penting dakwah kontemporer. UAS menguat melalui turats, istiqamah, dan kedekatan dengan umat. UAH tampil dengan penguasaan Al-Qur’an, sistematika ilmu, dan jaringan kelembagaan. Das’ad Latif berkembang melalui kekuatan komunikasi, humor, media, dan kemampuannya memasuki beragam ruang publik.

Workshop Dai Transformatif di Pesantren Bina Insan Mulia memperluas kesadaran tersebut menjadi gerakan pembinaan. Kehadiran Kiai Anwar Iskandar, Gus Ipang Wahid, Ustaz Yusuf Mansur, dan Arie Untung menunjukkan pentingnya kolaborasi antara ulama, pesantren, ahli komunikasi, pelaku ekonomi digital, figur publik, dan organisasi keagamaan.

Masa depan dakwah Indonesia terletak pada kemampuan mempertemukan kedalaman ilmu, kemuliaan akhlak, kecerdasan komunikasi, moderasi beragama, kekuatan kelembagaan, dan penguasaan teknologi.

Inilah wajah baru mubaligh digital dan dai transformatif Indonesia:

> Berilmu dalam isi, moderat dalam sikap, merakyat dalam bahasa, adaptif dalam metode, kuat dalam jaringan, cerdas menggunakan media, istiqamah dalam akhlak, dan nyata manfaatnya bagi umat.
DS@16092026.

Leave a Reply