UMRAH UNDANGAN KHADIMUL HARAMAIN

UMRAH UNDANGAN KHADIMUL HARAMAIN:
Penyerahan Buku kepada Rektor UIN Imam Bonjol Padang

Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

 

Ada kebahagiaan tersendiri ketika pengalaman perjalanan dapat disimpan dalam tulisan, kemudian tulisan itu menjadi buku dan akhirnya sampai ke tangan pembaca. Sabtu, 15 Agustus 2026, kebahagiaan itu saya rasakan ketika menyerahkan buku catatan perjalanan umrah kepada Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., Rektor UIN Imam Bonjol Padang. Penyerahan buku berlangsung sederhana, tetapi bagi seorang akademisi sebuah buku tidak pernah sekadar benda. Di dalamnya tersimpan pengalaman, ingatan, gagasan, perjumpaan, renungan, dan pesan yang ingin diteruskan kepada orang lain.

Buku tersebut merupakan catatan pribadi perjalanan saya ketika memperoleh kehormatan menunaikan umrah atas undangan Khadimul Haramain, sejak Rabu, 8 Juli sampai Senin, 19 Juli 2026. Karena ditulis dari pengalaman langsung, isinya tidak hanya mencatat perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Yang ingin direkam justru apa yang dirasakan hati, dibaca pikiran, dilihat mata, dan diperoleh dari berbagai perjumpaan selama berada di Haramain.

Dari perjalanan tersebut setidaknya ada empat pesan penting yang kemudian menjadi ruh buku, yaitu journey spiritual, pendidikan, tourism, dan diplomasi kebudayaan melalui perjumpaan tokoh lintas bangsa. Empat dimensi itu ternyata tidak berdiri sendiri. Semakin dijalani, semakin terasa bahwa umrah bukan sekadar perjalanan ritual. Ia adalah perjalanan manusia menuju Allah, perjalanan mencari ilmu, perjalanan membaca sejarah dan peradaban, sekaligus perjalanan membangun persaudaraan melampaui batas bangsa dan negara.

Dimensi pertama tentu saja adalah journey spiritual. Umrah membawa tubuh menuju Makkah dan Madinah, tetapi sesungguhnya perjalanan yang paling jauh terjadi di dalam diri manusia. Tubuh dapat sampai ke Masjidil Haram dalam hitungan jam, tetapi hati membutuhkan perjalanan panjang untuk benar-benar sampai kepada kesadaran bertuhan. Karena itu, perjalanan ke Haramain pada hakikatnya adalah perjalanan pulang kepada Allah SWT.

Ihram mengajarkan kesederhanaan. Ketika pakaian dunia dilepaskan dan manusia mengenakan pakaian ihram yang hampir sama, berbagai simbol sosial menjadi tidak penting. Profesor, pejabat, pengusaha, rakyat biasa, orang kaya dan miskin berada dalam ruang spiritual yang sama. Tidak ada gelar yang dibawa ketika menghadap Allah. Yang menentukan kemuliaan adalah iman, takwa, dan amal.

Talbiyah yang terus bergema, Labbaik Allahumma labbaik, bukan sekadar bacaan yang mengiringi perjalanan menuju Baitullah. Ia adalah pernyataan kesiapan memenuhi panggilan Allah. Justru setelah pulang dari Tanah Suci makna labbaik itu diuji. Apakah shalat semakin baik, hati semakin lembut, pekerjaan semakin amanah, hubungan dengan sesama semakin baik, dan pengabdian kepada masyarakat semakin kuat? Jika tidak ada perubahan, umrah mungkin telah selesai secara fikih, tetapi pesan spiritualnya belum sepenuhnya masuk ke dalam kehidupan.

Tawaf juga memberikan pelajaran yang sangat dalam. Ribuan manusia dari berbagai bangsa bergerak mengelilingi satu pusat, Ka’bah. Kehidupan manusia pun memerlukan pusat. Masalah manusia modern sering kali muncul ketika pusat kehidupannya berpindah kepada uang, jabatan, kekuasaan, popularitas, teknologi, atau kepentingan diri. Tawaf mengingatkan kembali bahwa pusat kehidupan seorang mukmin adalah Allah. Allah menjadi orientasi, sedangkan pekerjaan, ilmu, jabatan, kekayaan, dan seluruh aktivitas manusia bergerak dalam orbit pengabdian kepada-Nya.

Sa’i antara Shafa dan Marwah membawa perjalanan spiritual itu kepada dimensi kedua, yaitu pendidikan. Hajar tidak hanya berdoa menunggu pertolongan Allah. Ia bergerak, mencari, berlari, kembali mencari, dan terus berikhtiar sampai Allah menghadirkan Zamzam. Sa’i mengajarkan bahwa iman tidak pernah identik dengan kemalasan. Tawakal bukan alasan untuk berhenti bekerja. Doa justru harus memberikan energi untuk berusaha.

Pesan itu sangat dekat dengan kehidupan akademik. Belajar adalah sa’i. Meneliti adalah sa’i. Mengajar adalah sa’i. Menulis adalah sa’i. Membimbing mahasiswa adalah sa’i. Mengembangkan universitas juga merupakan sa’i. Seorang akademisi harus terus bergerak dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari pertanyaan menuju penelitian, dan dari pengetahuan menuju kemanfaatan. Semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin sadar bahwa ilmu Allah jauh lebih luas daripada apa yang telah diketahuinya.

Makkah dan Madinah sendiri adalah ruang pendidikan yang sangat besar. Haramain bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat sejarah ilmu dan peradaban Islam. Masjid sejak masa Rasulullah SAW bukan sekadar tempat shalat. Di masjid wahyu dibaca, ilmu diajarkan, persoalan umat dimusyawarahkan, dan manusia dididik. Pengalaman itu memberikan pesan penting bagi perguruan tinggi Islam bahwa agama dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Kampus Islam tidak cukup hanya memakai identitas Islam pada namanya. Nilai ilahiah harus masuk ke dalam etika akademik, penelitian, pengajaran, kepemimpinan, pelayanan, dan perilaku civitas akademika.

Dimensi ketiga adalah tourism. Perjalanan ke Tanah Suci tentu membawa seseorang melihat tempat-tempat yang sebelumnya hanya dikenal melalui buku, cerita guru, atau media. Namun tourism dalam perjalanan spiritual tidak boleh berhenti pada melihat tempat, berfoto, berbelanja, dan membawa pulang oleh-oleh. Perjalanan harus menjadi cara membaca dunia.

Makkah, Madinah, dan berbagai tempat yang dikunjungi adalah ruang belajar terbuka. Museum, masjid, bukit, lembah, jalan, situs sejarah, dan perkembangan kota memberikan informasi mengenai bagaimana sebuah peradaban tumbuh. Mata melihat bangunan, tetapi pikiran harus membaca sejarah di belakangnya. Kaki berjalan di sebuah tempat, tetapi hati harus mencari ibrah yang dikandungnya. Dengan cara seperti itulah tourism berubah menjadi educational tourism dan spiritual tourism. Perjalanan tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga pengetahuan dan kedalaman batin.

Dimensi keempat yang sangat berkesan adalah diplomasi kebudayaan. Program undangan Khadimul Haramain membuka kesempatan untuk bertemu dengan tokoh-tokoh dari berbagai bangsa. Masing-masing datang dengan bahasa, tradisi, pengalaman sosial, dan latar kebudayaan yang berbeda. Pertemuan seperti ini memperlihatkan secara nyata betapa luasnya dunia Islam.

Diplomasi ternyata tidak selalu berlangsung di ruang perundingan resmi. Diplomasi dapat terjadi ketika beberapa orang dari negara berbeda duduk bersama, saling memperkenalkan diri, makan bersama, bertukar pengalaman, membicarakan pendidikan, kehidupan umat, kebudayaan, dan persoalan bangsanya. Percakapan sederhana dapat membuka pemahaman yang sebelumnya tidak dimiliki tentang masyarakat lain. Pertemuan personal kemudian berubah menjadi jembatan kebudayaan.

Haramain mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam mempertemukan keragaman itu. Orang berbeda bahasa dapat berdiri dalam saf yang sama. Orang berbeda warna kulit bergerak dalam tawaf yang sama. Tokoh dari bangsa yang berbeda mengucapkan talbiyah yang sama. Islam menyatukan mereka tanpa harus menghilangkan identitas kebudayaan masing-masing. Tauhid menyatukan akidah, sedangkan keragaman budaya memperkaya peradaban.

Itulah sebabnya perjalanan umrah atas undangan Khadimul Haramain tersebut saya pahami bukan hanya sebagai pengalaman pribadi. Ada pelajaran yang layak ditulis dan diwariskan. Pengalaman yang hanya disimpan dalam ingatan akan perlahan memudar. Pengalaman yang ditulis dapat berubah menjadi pengetahuan. Dalam dunia akademik, proses mengalami, merenungkan, membaca, menulis, dan membagikan adalah bagian dari tanggung jawab keilmuan.

Penyerahan buku kepada Rektor UIN Imam Bonjol Padang karena itu juga dapat dibaca sebagai bagian dari silaturahmi akademik. Universitas tidak hanya dibangun dengan gedung, ruang kuliah, laboratorium, dan sistem administrasi. Universitas dibangun pula oleh buku, penelitian, gagasan, pengalaman, keteladanan, dan memori intelektual civitas akademikanya. Dosen dapat pensiun, profesor dapat mengakhiri masa pengabdian, dan seorang rektor pada waktunya menyelesaikan periode kepemimpinannya, tetapi gagasan yang ditulis dapat terus hidup. Buku adalah salah satu jalan menjaga sustainability gagasan.

Ada pula satu kata penting yang semakin kuat terasa setelah perjalanan ini, yaitu khidmah. Undangan Khadimul Haramain mengingatkan pada kata khadim, pelayan. Kemuliaan bukan selalu berada pada posisi dilayani. Kemuliaan justru dapat tumbuh dari kesediaan melayani. Nilai ini sangat relevan bagi dunia akademik. Rektor melayani universitas, dekan melayani fakultas, dosen melayani ilmu dan mahasiswa, tenaga kependidikan melayani proses akademik, sedangkan mahasiswa dipersiapkan agar ilmunya kelak menjadi pelayanan bagi masyarakat. Jabatan dengan demikian bukan kemuliaan untuk dinikmati, tetapi amanah untuk ditunaikan.

Pada akhirnya, secara fikih umrah memang selesai dengan tahallul, tetapi secara ruhani umrah seharusnya tidak pernah selesai. Tawaf harus diteruskan dengan menjadikan Allah pusat kehidupan. Sa’i diteruskan dengan kerja keras. Ihram diteruskan dengan kesederhanaan. Talbiyah diteruskan dengan ketaatan. Tourism diteruskan dengan semangat membaca sejarah dan peradaban. Perjumpaan lintas bangsa diteruskan dengan persaudaraan dan diplomasi kebudayaan. Sedangkan pengalaman Haramain diteruskan melalui ilmu, tulisan, keteladanan, dan pengabdian.

Itulah makna yang ingin saya titipkan melalui buku ini. Berangkat ke Haramain membawa diri, beribadah membawa hati menuju Allah, berjalan membuka pengetahuan, bertemu lintas bangsa memperluas persaudaraan, pulang membawa makna, menuliskannya menjadi ilmu, dan membagikannya menjadi khidmah. 15082026.

Leave a Reply