Hebat Aku dalam Al-Quran: Iblis dan Fir’aun, Mengapa?

Hebat Aku dalam Al-Quran: Iblis dan Fir’aun, Mengapa?
Oleh: Muhammad Munir An-Nabawī, M.Psi

(Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

 

Di tengah era modern yang mengagungkan pencitraan diri, manusia sering kali terjebak pada penyakit psikologis tertua di bumi: arogansi eksistensial. Al-Quran merekam potret dua tokoh besar sejarah, Iblis dan Fir’aun, bukan sekadar sebagai dongeng masa lalu. Keduanya adalah prototipe psikologis tentang bahaya absolut kata *”Aku”* ketika terlepas dari ketundukan kepada Sang Pencipta.

Mengapa Iblis dan Fir’aun begitu lekat dengan narasi kehebatan diri? Dan mengapa sikap mereka kerap disalahartikan sebagai simbol keberanian, padahal itu adalah bentuk kehancuran paling telak?

*Anatomi Kata “Aku” yang Menjerumuskan*
Dalam psikologi Islam, kata “Aku” (_ananiyah_) adalah titik krusial kesadaran diri. Namun, ketika dimonopoli oleh hawa nafsu dan dibungkus rasa superioritas, ia menjelma menjadi virus spiritual bernama _takabur_.

Al-Quran mengabadikan bagaimana Iblis menggunakan kata “Aku” untuk membangkang perintah Allah. Saat diperintahkan bersujud kepada Nabi Adam, Iblis menolak dengan sombong:

_“Aku lebih baik daripada dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”_ (QS. Al-A’raf: 12).

Bagi Iblis, asal-usul materialnya adalah tolok ukur kehebatan mutlak.

Hal serupa ditunjukkan Fir’aun di puncak piramida kekuasaan Mesir. Berada di singgasana megah, ia mendeklarasikan otoritas tandingan:

_“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi”_ (QS. An-Nazi’at: 24).

Bagi Fir’aun, kata “Aku” menjelma menjadi absolutisme kekuasaan yang menafikan eksistensi Tuhan.

*Salah Kaprah Makna “Keberanian”*
Hal paling menarik untuk dikritisi adalah bagaimana sebagian orang keliru membaca sikap mereka sebagai bentuk “keberanian”. Dalam pandangan dangkal, keberanian diidentikkan dengan keteguhan menentang arus atau menolak tunduk pada otoritas.

Iblis tampak “berani” membangkang demi argumen rasionalnya. Fir’aun tampak “berani” menentang mukjizat Nabi Musa demi mempertahankan hegemoni politik. Namun, dari kacamata tasawuf dan psikologi Islam, apa yang ditampilkan keduanya bukanlah _syaja’ah_ (keberanian sejati), melainkan _jahl_ (kebodohan) berbalut topeng arogansi. Keberanian tanpa takwa hanyalah pemberontakan bodoh yang menyeret pelakunya ke jurang kehinaan. Mereka berani melawan kebenaran mutlak karena tertipu ilusi kehebatan semu.

*Relevansi dalam Psikologi Manusia Modern*
Karakter Iblis dan Fir’aun bukanlah entitas sejarah yang mati. Keduanya hidup subur dalam mentalitas manusia modern:

*Mentalitas Iblis* bermanifestasi sebagai kesombongan intelektual dan spiritual. Ketika seseorang merasa lebih pintar, lebih rajin beribadah, atau lebih suci dibanding orang lain, ia sedang mengulang narasi Iblis. Gengsi mengakui kesalahan adalah bentuk virus ini.

*Mentalitas Fir’aun* hidup dalam diri mereka yang dihinggapi sindrom kekuasaan sekecil apa pun itu, baik jabatan, harta, maupun pengaruh. Ketika seseorang merasa kesuksesannya adalah murni hasil kecerdasan “Aku” semata tanpa melibatkan takdir Tuhan, ia sedang membangun singgasana Fir’aun dalam hatinya.

*Menghancurkan “Keakuan”*
Pelajaran terbesar _(ibrah)_ dari kisah ini adalah urgensi meredam ego melalui _fana-ul-ananiyah_ (menghilangkan keakuan yang egoistis). Manusia diciptakan sebaik-baiknya, namun segala kelebihan ilmu, harta, jabatan bukanlah hak milik mutlak, melainkan amanah titipan.

Kunci keselamatan jiwa terletak pada sifat _*Tawadhu’*_ (rendah hati). Menyadari bahwa di atas segala kepintaran dan kekuasaan kita, ada Zat Yang Maha Perkasa. Mari menanggalkan jubah “Aku” yang menipu, agar jiwa kita terhindar dari lubang kehancuran yang sama dengan Iblis dan Fir’aun.

Leave a Reply