AL-BALAD: KRITIK TERHADAP EGO DAN KESOMBONGAN

AL-BALAD: KRITIK TERHADAP EGO DAN KESOMBONGAN

Oleh:
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag Tuanku Mudo

 

Ada satu penyakit yang sering tidak disadari, tetapi justru menjadi akar dari banyak kerusakan sosial: ego dan kesombongan manusia. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk yang kasar, tetapi sering hadir dalam wajah yang halus—merasa paling benar, paling berkuasa, paling berjasa, bahkan merasa tidak membutuhkan orang lain. Di sinilah Al-Qur’an melalui surat Al-Balad memberikan kritik yang sangat tajam dan relevan sepanjang zaman.

Surah ini dibuka dengan sumpah atas sebuah negeri—al-balad. Ia bukan sekadar menunjuk Makkah sebagai ruang geografis, tetapi menjadi simbol kehidupan manusia dalam ruang sosial yang penuh dinamika: ada kekuasaan, ada ketimpangan, ada penderitaan, dan ada pilihan moral. Di tengah realitas itu, manusia diingatkan bahwa hidup bukanlah ruang bebas nilai, melainkan medan ujian yang menentukan arah peradaban.

Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam kabad—kepayahan. Ini bukan sekadar kelelahan fisik, tetapi juga pergulatan batin dan sosial. Hidup memang tidak ringan. Namun persoalannya bukan pada beratnya kehidupan, melainkan pada bagaimana manusia meresponsnya. Sebagian memilih jalan empati dan tanggung jawab, tetapi tidak sedikit yang justru tenggelam dalam ego dan kesombongan.

Al-Balad menggambarkan tipe manusia yang merasa dirinya tidak tersentuh oleh kekuasaan apa pun. Ia berkata dengan bangga bahwa dirinya telah menghabiskan harta yang banyak. Ini adalah simbol kesombongan modern: kekayaan dijadikan ukuran kemuliaan, pengaruh dijadikan alat legitimasi, dan kekuasaan dijadikan sarana dominasi. Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak lagi melihat orang lain sebagai sesama, tetapi sebagai objek.

Di sinilah letak kritik utama Al-Balad:
manusia yang dikuasai ego akan kehilangan kepekaan sosial.

Ia tidak lagi melihat penderitaan sebagai panggilan, tetapi sebagai pemandangan biasa. Ia tidak lagi merasa perlu membantu, karena merasa semua adalah hasil jerih payahnya sendiri. Padahal, dalam pandangan wahyu, semua yang dimiliki manusia adalah amanah, bukan milik mutlak.

Lalu Al-Qur’an menawarkan satu konsep yang sangat mendalam: al-‘aqabah—jalan terjal. Jalan ini bukan jalan biasa. Ia tidak dilalui oleh mereka yang hidup dalam kenyamanan ego, tetapi oleh mereka yang berani melampaui diri sendiri. Jalan terjal itu adalah membebaskan manusia dari penindasan, memberi makan saat krisis, menyantuni yang lemah, serta membangun kesabaran dan kasih sayang dalam kehidupan sosial.

Dengan kata lain,
jalan menuju kemuliaan bukanlah jalan ego, tetapi jalan pengorbanan sosial.

Di titik ini, nilai Al-Balad sangat sejalan dengan falsafah Minangkabau: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Dalam tradisi ini, manusia tidak hidup sendiri. Ia terikat oleh adat, dipandu oleh syarak, dan bertanggung jawab terhadap sesama.

Ego jelas bertentangan dengan adat. Adat mengajarkan musyawarah, sementara ego melahirkan dominasi. Adat menanamkan kebersamaan, sementara ego menumbuhkan individualisme. Dalam pepatah Minangkabau dikatakan: “ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua.” Ini adalah antitesis dari ego—bahwa beban hidup harus dipikul bersama.

Begitu pula dalam syarak. Islam secara tegas menolak kesombongan. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar zarrah. Ini menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar sikap sosial, tetapi penyakit spiritual yang menghalangi keselamatan.

Dalam perspektif tasawuf, ego dikenal sebagai nafs ammārah—dorongan jiwa yang selalu mengajak kepada keserakahan dan kesombongan. Maka perjuangan terbesar manusia bukanlah mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan dirinya sendiri. Inilah makna terdalam dari “jalan terjal” dalam Al-Balad: jalan melawan ego menuju empati.

Jika kita melihat kondisi hari ini, kritik Al-Balad terasa semakin relevan. Kita hidup di era di mana ego tidak hanya tumbuh dalam kekuasaan, tetapi juga dalam budaya digital. Orang berlomba menampilkan diri, memamerkan keberhasilan, dan mencari pengakuan. Namun di saat yang sama, kepekaan sosial justru semakin menurun. Ketimpangan meningkat, kepercayaan publik melemah, dan solidaritas sosial semakin rapuh.

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali nilai Al-Balad dalam kerangka ABS-SBK. Bahwa pembangunan tidak cukup dengan infrastruktur, tetapi harus dibangun di atas fondasi moral dan sosial. Bahwa kekayaan tidak cukup dinikmati, tetapi harus didistribusikan. Bahwa kepemimpinan tidak cukup kuat, tetapi harus amanah dan berempati.

Akhirnya, Al-Balad mengajarkan satu pelajaran besar:
kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh apa yang ia berikan.

Orang yang besar bukanlah yang tinggi kedudukannya, tetapi yang luas kepeduliannya. Orang yang mulia bukanlah yang banyak hartanya, tetapi yang ringan tangannya membantu sesama.

Dalam bahasa sederhana Minangkabau:

Nan tinggi bukan karano pangkek,
Tapi karano hati nan lapang.
Nan mulia bukan karano harta, Tapi karano peduli ka urang.

Maka, jika kita ingin membangun peradaban yang kuat, yang harus kita kalahkan pertama kali bukanlah kemiskinan atau ketertinggalan, tetapi ego dalam diri kita sendiri. Karena dari ego itulah lahir kesombongan, dan dari kesombongan itulah runtuhnya keadilan sosial.

Dan Al-Balad telah menunjukkan jalannya:
tempuhlah jalan terjal itu—jalan tanggung jawab sosial.