PUASA DAN ENERGI SPIRITUAL STRUGGLE:
Menguatkan Ketahanan Menghadapi Ancaman Perang Dunia dan Krisis Ekonomi Global
Oleh:
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag Tuanku Mudo
Dunia sedang bergerak menuju satu fase yang tidak pasti. Ketegangan geopolitik meningkat, konflik antarnegara kian terbuka, dan ekonomi global mengalami tekanan yang berlapis. Inflasi, krisis pangan, dan ketimpangan sosial bukan lagi isu jauh—ia sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Banyak analis bahkan mulai membicarakan kemungkinan konflik global berskala besar.
Dalam situasi seperti ini, manusia modern dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apa yang membuat manusia mampu bertahan?
Islam, jauh sebelum dunia modern mengenal konsep resilience, telah memberikan satu jawaban mendalam ketahanan hidup dibangun dari kekuatan spiritual. Dan salah satu instrumen terbesarnya adalah puasa.
Puasa bukan sekadar ibadah ritual. Ia adalah latihan eksistensial untuk menghadapi realitas kehidupan yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai kabad. Dalam surat Al-Balad, Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam kepayahan. Hidup memang tidak pernah sepenuhnya nyaman. Ia penuh tekanan, ketidakpastian, dan ujian. Namun ayat ini tidak mengajarkan pesimisme, melainkan kesiapan mental bahwa kehidupan harus dihadapi dengan kekuatan, bukan keluhan.
Di sinilah puasa menemukan maknanya yang paling dalam. Saat seseorang berpuasa, ia sedang melatih dirinya untuk hidup dalam keterbatasan tanpa kehilangan kendali. Ia menahan lapar, mengendalikan emosi, dan mengatur keinginan. Secara lahiriah, ini tampak sederhana. Tetapi secara batiniah, ini adalah proses besar: membangun manusia yang tidak mudah goyah oleh tekanan.
Dalam perspektif psikologi Islam, puasa adalah latihan pengendalian nafs. Nafsu yang tidak terkendali adalah sumber kepanikan, keserakahan, dan konflik. Sebaliknya, nafs yang terlatih akan melahirkan ketenangan, kesabaran, dan kejernihan berpikir. Orang yang terbiasa menahan diri saat lapar, akan lebih mampu menahan diri saat menghadapi tekanan hidup. Orang yang terbiasa bersabar dalam ibadah, akan lebih kuat menghadapi krisis sosial dan ekonomi.
Puasa juga membentuk cara pandang baru terhadap kehidupan. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan materi. Ada dimensi ruhani yang justru menjadi sumber kekuatan utama. Dalam kondisi krisis ekonomi, misalnya, banyak orang runtuh bukan karena tidak memiliki apa-apa, tetapi karena kehilangan makna. Puasa mengisi ruang makna itu. Ia mengajarkan bahwa hidup tetap bernilai meski dalam keterbatasan.
Di sisi lain, puasa memiliki dampak sosial yang sangat besar. Ketika seseorang merasakan lapar, ia mulai memahami penderitaan orang lain. Dari sini lahir empati. Empati melahirkan solidaritas. Dan solidaritas adalah fondasi ketahanan sosial. Dalam dunia yang dilanda krisis, masyarakat yang memiliki solidaritas tinggi akan lebih mampu bertahan dibanding masyarakat yang individualistik.
Krisis global hari ini tidak hanya soal ekonomi atau politik. Ia juga krisis moral. Keserakahan, perebutan sumber daya, dan dominasi kekuasaan adalah manifestasi dari ego yang tidak terkendali. Puasa hadir untuk meruntuhkan ego itu. Ia mengingatkan manusia bahwa dirinya lemah, terbatas, dan bergantung kepada Allah. Dari kesadaran ini lahir kerendahan hati—dan dari kerendahan hati lahir keadilan sosial.
Jika kita melihat lebih dalam, puasa sesungguhnya adalah simulasi menghadapi krisis. Saat berpuasa, manusia belajar hidup dengan keterbatasan, mengelola emosi, menjaga harapan, dan tetap produktif meski dalam tekanan. Semua ini adalah keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi kemungkinan krisis global, baik dalam bentuk konflik maupun tekanan ekonomi.
Dalam konteks masyarakat, puasa seharusnya tidak berhenti pada dimensi individual. Ia harus menjadi gerakan kolektif. Puasa yang benar akan melahirkan budaya hidup sederhana, memperkuat kepedulian sosial, dan mendorong distribusi kekayaan melalui zakat dan sedekah. Ini adalah sistem ketahanan sosial yang sangat kuat jika dijalankan secara serius.
Namun tantangannya adalah puasa sering direduksi menjadi ritual tahunan tanpa transformasi. Lapar dirasakan, tetapi empati tidak tumbuh. Ibadah dilakukan, tetapi ego tetap dominan. Jika ini yang terjadi, maka puasa kehilangan daya transformasinya.
Padahal, dalam dunia yang semakin tidak pasti, manusia membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan fisik atau ekonomi. Ia membutuhkan ketahanan batin—kemampuan untuk tetap tenang dalam tekanan, tetap berharap dalam kesulitan, dan tetap peduli di tengah krisis.
Puasa adalah sekolah untuk itu.
Ia melatih manusia menjadi pribadi yang kuat tanpa menjadi keras, sabar tanpa menjadi lemah, dan sederhana tanpa kehilangan makna. Ia membentuk manusia yang mampu menghadapi “kabad” kehidupan dengan kesadaran, bukan kepanikan.
Pada akhirnya, jika dunia benar-benar memasuki fase krisis yang lebih dalam—baik dalam bentuk konflik global maupun tekanan ekonomi—maka yang akan bertahan bukan hanya mereka yang memiliki sumber daya, tetapi mereka yang memiliki kekuatan spiritual. Dan puasa adalah sumber energi itu.
Pituah Mak Awak:
Kalau badai datang melanda,
jangan hanya cari tempat berlindung,
tapi kuatkan hati nan di dalam dada.
Puasa bukan sekadar menahan lapar,
tapi latihan jadi manusia sabar, agar kuat saat dunia bergetar. DS.01032026.
