TAUSHIYAH PESANTREN LANSIA ARRAHMAH

suraudigitaltuanku professor.series15.020326

TAUSHIYAH PESANTREN LANSIA ARRAHMAH

LANSIA: MEMETIK HIKMAH, MENEGUHKAN TAUHID, MENYEMPURNAKAN SPIRITUALITAS

Oleh: Duski Samad

Menjadi lansia bukan sekadar bertambah usia. Ia adalah fase ketika manusia mulai berhadapan secara jujur dengan dirinya sendiri: tentang apa yang telah dijalani, apa yang diyakini, dan kepada siapa ia akan kembali. Pada titik ini, hidup tidak lagi diukur oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kedalaman makna.

Ada tiga hal mendasar yang membentuk wajah lansia: pengalaman, pandangan teologis, dan pandangan spiritual.

Pertama, pengalaman.
Lansia adalah kumpulan jejak waktu. Setiap peristiwa—bahagia maupun luka—menjadi bahan baku pembentukan kepribadian. Ada lansia yang tenang karena mampu berdamai dengan masa lalu, tetapi ada pula yang gelisah karena terjebak dalam penyesalan. Dalam psikologi perkembangan, fase ini disebut sebagai pergulatan antara integritas dan keputusasaan. Siapa yang mampu menerima hidupnya dengan lapang, ia akan memetik hikmah. Namun yang gagal, akan hidup dalam bayang-bayang kegagalan.

Dalam perspektif Islam, pengalaman bukan untuk disesali, tetapi untuk dimaknai. Allah mengangkat derajat orang yang mampu mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya. Hikmah itu tidak lahir dari usia, tetapi dari kesadaran dalam membaca makna usia.

Kedua, pandangan teologis.
Bagaimana seseorang memahami Tuhan akan sangat menentukan bagaimana ia menghadapi hidup dan kematian. Lansia yang memiliki tauhid yang lurus akan melihat hidup sebagai ujian, dan kematian sebagai perjumpaan. Ia tidak lagi dihantui ketakutan yang berlebihan, karena ia mengenal Allah sebagai Maha Pengasih, bukan sekadar Maha Menghukum.

Sebaliknya, pandangan teologis yang sempit akan melahirkan kecemasan. Hidup terasa penuh ancaman, dan kematian dianggap sebagai akhir yang menakutkan. Padahal Allah telah menegaskan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Di sinilah pentingnya membangun teologi yang menenangkan, bukan menakutkan; yang menghadirkan harapan, bukan keputusasaan.

Ketiga, pandangan spiritual.
Jika teologi berbicara tentang konsep, maka spiritualitas berbicara tentang rasa. Lansia yang kuat spiritualitasnya tidak hanya memahami Tuhan, tetapi merasakan kehadiran-Nya. Ia menemukan ketenangan dalam dzikir, kedamaian dalam ibadah, dan keikhlasan dalam menerima takdir.

Dalam tradisi tasawuf, fase lansia adalah fase kembali—ruju’ ilallah. Dunia tidak lagi menjadi tujuan, tetapi jembatan. Hati tidak lagi sibuk dengan ambisi, tetapi dengan persiapan pulang. Di sinilah dzikir menjadi obat, sabar menjadi kekuatan, dan tawakkal menjadi penopang.

Secara ilmiah pun, lansia yang memiliki kedalaman spiritual terbukti lebih stabil secara emosional. Mereka lebih mampu menghadapi sakit, kehilangan, dan kesendirian. Karena bagi mereka, hidup tidak berhenti pada dunia, tetapi berlanjut pada kehidupan yang lebih abadi.

Pada akhirnya, lansia yang berkualitas adalah yang mampu menyatukan ketiga hal ini: pengalaman yang melahirkan hikmah, teologi yang meneguhkan makna, dan spiritualitas yang menenangkan jiwa. Dari sinilah lahir sosok lansia yang tidak hanya tua secara usia, tetapi matang secara jiwa.

Mereka bukan beban masyarakat, tetapi penjaga nilai. Bukan kelompok lemah, tetapi sumber kebijaksanaan. Kehadiran mereka adalah pengingat bahwa hidup bukan sekadar tentang memulai, tetapi tentang mengakhiri dengan baik.

Maka, menjadi lansia sejatinya adalah anugerah:
kesempatan untuk memetik hikmah, meneguhkan tauhid, dan menyempurnakan perjalanan menuju Allah.