Ke Mana Arah KKN, Penelitian, dan Pengabdian Perguruan Tinggi? Saatnya Bersinergi dengan Keilmuan untuk Menjawab Persoalan Banjir Kota Padang

Ke Mana Arah KKN, Penelitian, dan Pengabdian Perguruan Tinggi? Saatnya Bersinergi dengan Keilmuan untuk Menjawab Persoalan Banjir Kota Padang
Oleh:
FIRDAUS, S.S., M.Si.
(Dosen Sosiologi UNU Sumbar )

Banjir yang terus berulang di Kota Padang seharusnya menjadi panggilan bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi. Setiap tahun, ribuan mahasiswa melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), menyusun tugas akhir, sementara dosen menjalankan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Namun, pertanyaan yang patut diajukan adalah: sejauh mana seluruh aktivitas akademik tersebut benar-benar diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat?
Tidak sedikit program KKN, penelitian, maupun tugas akhir yang masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terhubung dengan kebutuhan daerah. Kegiatan KKN sering kali terjebak pada program-program formalitas yang berulang—seperti sekadar pembuatan plang nama jalan, pengecatan gapura, atau kegiatan seremonial lainnya—tanpa pernah menyentuh akar permasalahan lingkungan. Padahal, perguruan tinggi memiliki sumber daya intelektual dan sosial yang sangat besar. Jika seluruh kegiatan akademik disinergikan sesuai bidang keilmuan masing-masing, dampaknya akan jauh lebih besar, terukur, dan berkelanjutan.

Mengintegrasikan Keilmuan Eksakta dan Teknik
Bayangkan jika setiap mahasiswa Teknik Sipil yang menyusun tugas akhir mengangkat persoalan drainase, pengendalian banjir, stabilitas tebing sungai, atau sistem resapan air di Kota Padang. Dalam beberapa tahun saja akan terkumpul ratusan hasil penelitian teknis yang dapat menjadi basis data dan rekomendasi presisi bagi pemerintah daerah.
Demikian pula penelitian dosen. Hasil penelitian tidak seharusnya berhenti sebagai publikasi ilmiah dalam jurnal yang sepi pembaca atau sekadar pemenuhan beban kerja dosen (BKD). Penelitian dapat diarahkan untuk menghasilkan solusi aplikatif, mulai dari desain infrastruktur pengendali banjir skala mikrocatchment, model drainase perkotaan berbasis kearifan lokal, sistem peringatan dini (early warning system) berbasis IoT, hingga rekomendasi kebijakan teknis berbasis bukti ilmiah.
Perspektif Sosiologis dan Humaniora dalam Bencana
Persoalan banjir bukan sekadar masalah curah hujan tinggi atau infrastruktur fisik yang minim, melainkan juga masalah dinamika sosial, budaya, dan perilaku masyarakat. Di sinilah peran penting disiplin sosiologi dan ilmu sosial humaniora. Banjir kerap berakar pada perubahan pola hidup, penurunan kesadaran lingkungan, rendahnya modal sosial (social capital) dalam pengelolaan sampah, hingga pengabaian nilai-nilai kearifan lokal seperti konsep adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah dalam menjaga alam (alam takambang jadi guru).
Melalui kacamata sosiologi, perguruan tinggi dapat mengkaji bagaimana struktur sosial masyarakat merespons risiko bencana, bagaimana menggerakkan partisipasi komunitas berbasis kaum atau nagari, serta bagaimana membangun kesiapsiagaan bencana berorientasi komunitas (community-based disaster management). Tanpa pemahaman atas relasi sosial dan kultur masyarakat setempat, sebaik apa pun infrastruktur teknik yang dibangun akan sulit bertahan.
Sinergi Antardisiplin dan Ekosistem Pengabdian
Program KKN dapat menjadi wadah nyata bagi implementasi hasil penelitian multidisiplin tersebut. Mahasiswa dapat mendampingi masyarakat dalam penerapan sumur resapan, biopori, pemeliharaan drainase partisipatif, edukasi pengelolaan sampah dari rumah tangga, hingga pemetaan kawasan rawan banjir skala RT/RW. Dengan demikian, penelitian, tugas akhir, KKN, dan pengabdian kepada masyarakat saling terhubung dalam satu ekosistem pengabdian yang berkelanjutan.
Pendekatan ini tidak hanya relevan bagi Program Studi Teknik Sipil atau Sosiologi semata:

  1. Teknik Lingkungan: Berkontribusi dalam pengelolaan limbah, penataan daerah aliran sungai (DAS), dan pemantauan kualitas air.
  2. Geografi: Berperan dalam pemetaan tata ruang, zonasi wilayah rawan banjir, dan analisis perubahan penggunaan lahan.
  3. Informatika: Mengembangkan sistem informasi kebencanaan, aplikasi pemantauan banjir real-time, dan pemetaan partisipatif berbasis spasial.
  4. Pendidikan: Merancang kurikulum atau modul edukasi mitigasi bencana sejak dini bagi sekolah-sekolah di kawasan rawan genangan.
  5. Ekonomi: Mengkaji dampak kerugian ekonomi warga, skema asuransi bencana lokal, serta strategi pemulihan ekonomi pascabencana bagi UMKM.
  6. Hukum: Mendorong evaluasi dan penegakan regulasi tata ruang serta perlindungan kawasan resapan air.

Membangun Roadmap Akademik Berbasis Kebutuhan Daerah
Sudah saatnya perguruan tinggi menyusun roadmap akademik berbasis kebutuhan nyata daerah. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di setiap perguruan tinggi di Sumatera Barat perlu duduk bersama dengan pemerintah daerah untuk memetakan kluster permasalahan prioritas. Topik penelitian dosen, tugas akhir mahasiswa, program KKN, dan pengabdian kepada masyarakat perlu diarahkan untuk mendukung penyelesaian persoalan strategis seperti banjir, pengelolaan sampah, kemacetan, dan pemanasan global. Dengan cara ini, setiap kegiatan akademik akan saling melengkapi dan menghasilkan manfaat yang lebih nyata.
Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral, ilmiah, dan sosial untuk hadir sebagai bagian dari solusi. Ketika pendidikan, penelitian, tugas akhir, KKN, dan pengabdian disinergikan dengan kebutuhan masyarakat, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan berbaju toga dan tumpukan publikasi ilmiah di lemari arsip, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi keselamatan dan kelangsungan pembangunan daerah.
Pertanyaan yang patut menjadi renungan bersama adalah: sudahkah setiap tugas akhir mahasiswa, penelitian dosen, program KKN, dan pengabdian masyarakat memberikan dampak nyata bagi penyelesaian persoalan di Kota Padang? Jika belum, inilah saatnya melakukan perubahan mendasar agar seluruh potensi akademik benar-benar hadir untuk menjawab kebutuhan dan menyelamatkan masyarakat dari ancaman banjir yang berulang.

Leave a Reply