HJK ke-357 KOTA PADANG: Kota Tua, Kota Rasa, Kota Peradaban

HJK ke-357 KOTA PADANG: Kota Tua, Kota Rasa, Kota Peradaban

Oleh: Duski Samad
Penerima Piagam Tokoh Agama Kota Padang Tahun 2017

 

Peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 Tahun 2026 yang berlangsung pada 6–10 Agustus 2026 mengusung tema “Taste of Padang Experience 2026: Road to Gastronomy City.” Tema ini bukan sekadar promosi kuliner, tetapi merupakan langkah strategis memperkuat posisi Padang sebagai kota gastronomi dunia. Sesungguhnya, identitas Padang jauh lebih besar daripada itu. Padang adalah kota tua, kota rasa, dan kota peradaban.

Sebagai kota tua, Padang telah berabad-abad menjadi melting pot berbagai etnis, budaya, agama, dan tradisi. Letaknya di pesisir barat Sumatera menjadikan kota ini sebagai pintu gerbang menuju Sumatera Tengah sekaligus simpul perdagangan internasional sejak masa lampau. Dari pelabuhan Padang berlangsung perjumpaan gagasan, perdagangan, pendidikan, dan dakwah yang membentuk karakter masyarakat Minangkabau yang terbuka, religius, dan dinamis.

Karena itu, menjadikan Padang sebagai kota dunia bukanlah sebuah utopia, melainkan sebuah keniscayaan sejarah. Modal budaya, sejarah, pendidikan, dan kuliner telah memberikan fondasi yang kokoh. Gastronomi hanyalah salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan Padang kepada masyarakat global, sedangkan kekuatan utamanya terletak pada peradaban yang dibangun selama berabad-abad.

Padang juga dikenal sebagai kota pendidikan. Universitas Andalas merupakan perguruan tinggi tertua di Sumatera. UIN Imam Bonjol Padang adalah perguruan tinggi Islam negeri tertua kedua di Sumatera setelah UIN Ar-Raniry Aceh. Sementara Universitas Negeri Padang (UNP), yang berakar dari IKIP Padang, telah lama menjadi pusat pengembangan ilmu kependidikan dan pencetak guru bagi Indonesia. Kehadiran perguruan tinggi tersebut menjadikan Padang sebagai pusat lahirnya intelektual, ulama, profesional, ilmuwan, dan pemimpin bangsa.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Maigus Nasir, Kota Padang bergerak dengan berbagai sembilan Program Unggulan (Progul) yang diarahkan untuk memperkuat pelayanan publik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta membangun kota yang tangguh terhadap berbagai tantangan, termasuk bencana.

Di antara seluruh program tersebut, Smart Surau layak disebut sebagai program yang paling strategis karena menyentuh fondasi pembangunan manusia. Program ini menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat ibadah, pendidikan, pembinaan karakter, literasi keagamaan, pemberdayaan masyarakat, dan kaderisasi kepemimpinan. Bila dijalankan secara konsisten, Smart Surau berpotensi menjadi legacy kepemimpinan Fadly Amran–Maigus Nasir, bahkan dapat menjadi model nasional dalam pembinaan Generasi Z. Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi muda membutuhkan ruang yang mampu memadukan kecerdasan teknologi dengan kecerdasan spiritual sehingga lahir generasi yang cerdas, berakhlak, inovatif, dan tetap berakar pada nilai-nilai agama serta budaya Minangkabau.

Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah lahir bukan dari slogan, melainkan dari pengalaman nyata. Karena itu, Padang Sigap menjadi pengakuan yang tumbuh dari masyarakat sendiri. Banyak warga merasakan bahwa ketika melaporkan jalan yang rusak melalui WhatsApp, keesokan harinya petugas Dinas Pekerjaan Umum telah hadir melakukan perbaikan. Respons cepat seperti ini menghadirkan keyakinan bahwa pemerintah benar-benar mendengar, bekerja, dan melayani.

Semangat Padang Sigap juga tampak ketika bencana banjir melanda berbagai wilayah kota. Wali Kota bersama seluruh jajaran pemerintah bergerak cepat ke lapangan, mengoordinasikan penanganan darurat, memastikan bantuan tersalurkan, dan mempercepat pemulihan. Kehadiran pemerintah pada saat masyarakat menghadapi kesulitan menjadi bukti bahwa pelayanan publik bukan sekadar administrasi, melainkan pengabdian kepada masyarakat.

Kerja nyata tersebut terlihat pula dalam penanganan pascabanjir besar 28 November 2025. Melalui koordinasi yang intensif, berbagai dampak bencana dapat diatasi secara bertahap. Salah satu hasil penting adalah penyelesaian pelurusan aliran Sungai Lubuk Minturun yang selama ini menjadi sumber ancaman banjir. Dampaknya sangat dirasakan masyarakat, termasuk Pesantren MTI Batang Kabung dan Pesantren Harakatul Qur’an, yang kini kembali aman dan nyaman menjalankan aktivitas pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, tetapi investasi bagi keselamatan masyarakat, keberlangsungan pendidikan, dan masa depan kota.

Konsistensi, kecepatan merespons persoalan, serta kehadiran langsung di tengah masyarakat merupakan modal sosial yang sangat penting. Kepemimpinan yang responsif seperti inilah yang menjadi magnet bagi masyarakat, termasuk Generasi Z, yang cenderung memberikan kepercayaan kepada pemimpin yang autentik, komunikatif, dan terbukti bekerja.

Memasuki usia 357 tahun, Kota Padang tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Tantangan masa depan menuntut Padang membangun peradaban yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, budaya, spiritualitas, inovasi, dan tata kelola pemerintahan yang melayani. Sebagai kota tua, Padang memiliki modal historis yang kuat. Sebagai kota pendidikan, Padang memiliki kekuatan intelektual yang terus melahirkan ilmuwan, ulama, guru, dan pemimpin bangsa. Sebagai kota kuliner, Padang memiliki identitas budaya yang telah mendunia. Ketiga kekuatan tersebut harus dipadukan menjadi ekosistem peradaban yang mampu melahirkan kesejahteraan sekaligus menjaga jati diri masyarakatnya.

Ke depan, pembangunan Kota Padang perlu diarahkan pada lima pilar besar, yaitu kota religius melalui penguatan Smart Surau, kota cerdas melalui transformasi digital, kota tangguh terhadap bencana, kota unggul dalam pendidikan dan inovasi, serta kota mendunia melalui diplomasi budaya dan gastronomi. Dengan demikian, kemajuan tidak hanya diukur dari gedung-gedung yang menjulang, tetapi juga dari kualitas manusianya yang berilmu, berakhlak, sehat, produktif, dan berdaya saing global.

Kepemimpinan yang responsif, pemerintahan yang sigap, serta partisipasi aktif masyarakat harus terus dipelihara. Pemerintah tidak mungkin membangun kota sendirian. Perguruan tinggi, ulama, ninik mamak, bundo kanduang, pelaku usaha, komunitas kreatif, dan terutama Generasi Z harus menjadi bagian dari gerakan besar membangun Padang sebagai kota masa depan.

Hari Jadi Kota Padang ke-357 hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat optimisme bersama. Dengan semangat kolaborasi, kerja nyata, dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat, Padang akan semakin mengukuhkan dirinya sebagai Kota Tua, Kota Rasa, dan Kota Peradaban—sebuah kota dunia yang maju, humanis, religius, berkelanjutan, serta tetap berakar kuat pada budaya Minangkabau dan nilai-nilai Islam.

Dirgahayu Kota Padang ke-357. Jayalah Kota Padang, rumah peradaban, pusat ilmu, kebanggaan Ranah Minang, dan gerbang Indonesia menuju dunia. 06072026.

Leave a Reply