PESANTREN RUMAH KEDUA BERDINDING ADAB, ILMU, DAN PENJAGA UMAT
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Wakil Ketua Umum PP PERTI dan Pembina PPMTI Batang Kabung Padang
Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah rumah kedua yang membentuk jiwa, karakter, akhlak, dan masa depan umat. Di dalam lingkungan pesantren, seorang anak tidak hanya belajar membaca kitab, menghafal pelajaran, atau memahami hukum-hukum agama, tetapi juga belajar menjadi manusia yang beradab, menghormati guru, mencintai ilmu, dan mengabdi kepada masyarakat.
Karena itu, kekuatan utama pesantren sesungguhnya bukan terletak pada bangunan yang megah atau fasilitas yang lengkap, melainkan pada ruh pendidikan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ruh itu adalah adab, ilmu, dan pengabdian.
Adab Didahulukan Sebelum Ilmu
Salah satu ciri khas pendidikan pesantren adalah mendahulukan adab sebelum ilmu. Tradisi ini memiliki akar yang sangat kuat dalam sejarah Islam.
Rasulullah SAW selama kurang lebih sepuluh tahun periode Makkah lebih banyak menanamkan akidah, akhlak, dan pembentukan karakter daripada rincian hukum-hukum syariat. Generasi sahabat dibentuk terlebih dahulu menjadi manusia yang beriman, jujur, amanah, sabar, dan berakhlak mulia. Setelah fondasi itu kokoh, barulah berbagai ketentuan syariat diturunkan secara bertahap.
Pesantren mewarisi metode pendidikan kenabian tersebut. Santri diajarkan bagaimana menghormati guru, menjaga lisan, memuliakan ilmu, menghargai sesama, dan mengendalikan hawa nafsu. Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan adab akan mengantarkan ilmu menjadi cahaya yang membawa manfaat.
Tidaklah mengherankan jika para ulama terdahulu mengatakan bahwa mereka mempelajari adab lebih lama daripada mempelajari ilmu. Adab adalah mahkota ilmu dan penyangga kemuliaan seseorang.
Identitas Santri Harus Dipertahankan
Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, pesantren perlu terus berkembang, tetapi tidak boleh kehilangan identitasnya.
Salah satu identitas yang tampak sederhana namun memiliki makna mendalam adalah tradisi berpakaian santri, termasuk penggunaan peci. Bagi sebagian orang, peci mungkin hanya dianggap sebagai penutup kepala. Namun dalam tradisi pesantren, peci merupakan simbol kesederhanaan, kehormatan, dan identitas keislaman.
Peci, sarung, baju muslim, serta berbagai tradisi pesantren lainnya sesungguhnya berfungsi sebagai benteng budaya yang membantu santri menjaga perilaku dan akhlaknya. Simbol-simbol tersebut mengingatkan bahwa dirinya adalah bagian dari tradisi ilmu dan moral yang harus dijaga.
Mempertahankan identitas santri bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menjaga akar agar pohon peradaban tetap kokoh berdiri.
Membalas Budi kepada Pesantren dan Guru
Tidak ada balas jasa yang lebih mulia kepada pesantren dan para guru selain mengamalkan ilmu yang telah diajarkan.
Bangunan pesantren dapat mengalami perubahan. Guru-guru dapat berganti dan bahkan wafat. Namun ilmu yang diamalkan akan terus hidup dan mengalirkan pahala kepada mereka yang telah mengajarkannya.
Seorang alumni pesantren yang menjadi guru, dai, ulama, akademisi, pemimpin masyarakat, atau pengusaha yang berakhlak adalah bentuk penghormatan terbaik kepada pesantrennya. Sebaliknya, ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi catatan dalam ingatan tanpa memberikan manfaat bagi umat.
Karena itu, alumni pesantren harus senantiasa menjaga hubungan batin dengan almamaternya, menghormati guru-gurunya, serta berkontribusi bagi kemajuan pesantren yang telah membesarkannya.
Doa Orang Tua dan Lahirnya Pecinta Pesantren
Banyak ulama besar lahir bukan hanya karena kecerdasan, tetapi karena keberkahan doa orang tua.
Betapa banyak ayah dan ibu yang mengantarkan anaknya ke pesantren dengan harapan sederhana: menjadi anak saleh, berilmu, dan bermanfaat bagi agama. Dari doa yang tulus itu lahir para alim ulama, pendidik, pendiri lembaga, penggerak masyarakat, dan tokoh-tokoh yang mengabdikan hidupnya untuk Islam.
Cinta kepada pesantren sering kali berawal dari cinta orang tua terhadap agama dan ilmu. Karena itu, keberhasilan seorang santri tidak pernah berdiri sendiri. Di belakangnya ada doa ibu yang tidak pernah putus, harapan ayah yang tidak pernah padam, dan pengorbanan keluarga yang terus mengalir.
Alumni Pesantren Pewaris Risalah Kenabian
Alumni pesantren bukan sekadar lulusan sebuah lembaga pendidikan. Mereka adalah pelanjut risalah para nabi.
Dalam hadis yang sangat masyhur disebutkan bahwa para ulama adalah waratsatul anbiya’, pewaris para nabi. Warisan itu bukan berupa harta benda, melainkan ilmu, akhlak, dan perjuangan menegakkan kebenaran.
Karena itu, setiap alumni pesantren memikul tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai Islam, membimbing masyarakat, memperkuat persatuan umat, dan menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar pula amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Pesantren Kawah Candradimuka Kader Umat
Sejak dahulu pesantren menjadi kawah candradimuka tempat lahirnya para ulama, guru, mubalig, dan pemimpin masyarakat.
Dari bilik-bilik sederhana pesantren lahir tokoh-tokoh besar yang membangun bangsa, memperjuangkan kemerdekaan, mendirikan lembaga pendidikan, dan menjaga akidah umat. Mereka ditempa dengan disiplin, kesederhanaan, ketekunan, dan ketulusan.
Pesantren mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diperoleh melalui kemewahan, tetapi melalui perjuangan dan pengabdian.
Karena itu, pesantren akan selalu menjadi pusat kaderisasi ulama, pembina umat, dan penjaga nilai-nilai Islam di tengah perubahan zaman.
Pesantren dan Kehidupan Umat
Sesungguhnya pesantren hidup karena ruh Islam yang menghidupkannya. Ketika ruh itu terjaga, pesantren akan tetap menjadi benteng umat. Ketika ruh itu melemah, pesantren hanya tinggal bangunan tanpa jiwa.
Ulama adalah penjaga ruh tersebut. Karena itu para ulama senantiasa dimuliakan dalam tradisi Islam. Sebuah hikmah yang populer di kalangan ulama menyebutkan:
“Man istakhaffa bil ulama khasirad din”.
Barang siapa meremehkan ulama, maka ia akan merugi dalam urusan agamanya.
Ungkapan ini mengingatkan bahwa keberlangsungan agama, pendidikan, dan peradaban sangat bergantung pada penghormatan terhadap ilmu dan para pewarisnya.
Penutup
Pesantren adalah rumah kedua yang berdinding adab, beratapkan ilmu, dan berpilar pengabdian. Dari sanalah lahir generasi yang menjaga agama, membimbing umat, serta meneruskan risalah para nabi.
Selama pesantren tetap memelihara adab, menjaga tradisi ilmu, menghormati guru, dan membangun generasi yang berakhlak, selama itu pula pesantren akan menjadi benteng umat dan penjaga peradaban Islam.
Maka mencintai pesantren bukan hanya mencintai sebuah lembaga pendidikan, tetapi juga mencintai masa depan umat dan keberlanjutan risalah Islam itu sendiri.DS. 20062026.







