TURNAROUND SPIRITUAL DAN MANIFESTO KEHIDUPAN
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol
Di tengah kemajuan teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), media sosial, dan percepatan ekonomi global, manusia modern sesungguhnya sedang menghadapi satu krisis yang sering luput dari perhatian, yaitu krisis orientasi hidup. Banyak orang berhasil menaklukkan dunia, tetapi gagal menaklukkan dirinya sendiri. Banyak yang kaya secara materi, namun miskin secara spiritual. Banyak yang terkenal di ruang publik, tetapi asing dengan hatinya sendiri.
Fenomena ini terlihat hampir di semua lapisan masyarakat. Jabatan menjadi tujuan, bukan amanah. Kekayaan menjadi ukuran kemuliaan, bukan sarana pengabdian. Popularitas menjadi standar keberhasilan, bukan manfaat yang diberikan kepada sesama. Dunia yang seharusnya menjadi kendaraan menuju Allah perlahan berubah menjadi tujuan utama kehidupan.
Dalam dunia manajemen dikenal istilah turnaround strategy, yaitu strategi membalik arah ketika organisasi mengalami kemunduran atau penyimpangan dari tujuan yang semestinya. Jika konsep ini diterapkan dalam kehidupan manusia, maka yang paling membutuhkan turnaround sesungguhnya bukan perusahaan atau lembaga, melainkan hati dan orientasi hidup manusia.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa sebelum manusia lahir ke dunia, Allah telah mengambil perjanjian suci dari seluruh anak Adam:
«“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Benar, kami bersaksi.”(QS. Al-A’raf: 172)»
Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Manusia pada hakikatnya dilahirkan dengan orientasi ketuhanan. Dalam fitrahnya, manusia mengenal Allah. Dalam nuraninya, manusia merindukan Allah. Namun dalam perjalanan hidup, orientasi tersebut sering tertutup oleh gemerlap dunia, ambisi kekuasaan, dan nafsu kepemilikan.
Karena itu, turnaround spiritual sesungguhnya adalah perjalanan pulang. Perjalanan mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Perjalanan dari lupa menuju ingat, dari lalai menuju sadar, dari dunia menuju akhirat.
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membenci dunia. Dunia tetap penting karena menjadi ladang amal dan tempat pengabdian. Namun Islam mengingatkan agar dunia tidak menjadi pusat orientasi hidup.
Allah berfirman:
«“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)»
Ayat ini memberikan keseimbangan yang luar biasa. Dunia tidak ditinggalkan, tetapi juga tidak dipertuhankan. Dunia digunakan sebagai sarana untuk membangun kehidupan akhirat.
Di sinilah letak perbedaan antara orientasi dunia dan orientasi akhirat. Orang yang berorientasi dunia bertanya, “Apa yang saya peroleh?” Sedangkan orang yang berorientasi akhirat bertanya, “Apa yang dapat saya persembahkan?”
Orang yang berorientasi dunia mengejar pengakuan manusia. Orang yang berorientasi akhirat mengejar keridaan Allah.
Orang yang berorientasi dunia menghitung keuntungan pribadi. Orang yang berorientasi akhirat menghitung manfaat bagi umat.
Karena itu Al-Qur’an mengabadikan deklarasi terbesar orientasi hidup seorang mukmin:
«“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”(QS. Al-An’am: 162–163)»
Ayat ini bukan sekadar bacaan. Ia adalah manifesto kehidupan. Ia adalah deklarasi bahwa seluruh aktivitas manusia—pekerjaan, usaha, jabatan, pendidikan, politik, ekonomi, bahkan kematian—harus berada dalam orbit pengabdian kepada Allah.
Dalam tasawuf, penyimpangan orientasi hidup sering berawal dari penyakit yang disebut hubbud dunya, yaitu kecintaan berlebihan kepada dunia. Dunia bukan lagi alat, tetapi tujuan. Akibatnya lahirlah kesombongan, kerakusan, iri hati, persaingan tidak sehat, bahkan krisis mental yang semakin meluas.
Tidak sedikit orang yang memiliki segalanya tetapi tetap merasa kurang. Memiliki rumah tetapi kehilangan ketenteraman. Memiliki jabatan tetapi kehilangan kebahagiaan. Memiliki banyak pengikut tetapi merasa kesepian.
Tasawuf menawarkan solusi melalui konsep Al-Uns Billah, yaitu keakraban dengan Allah. Ketika hati dekat dengan Allah, manusia menemukan ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh kekayaan dan tidak dapat diberikan oleh kekuasaan.
Sebagaimana firman Allah:
«“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)»
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, kebutuhan terbesar manusia bukan hanya peningkatan pendapatan, melainkan peningkatan kesadaran. Bukan sekadar kecerdasan intelektual, tetapi kecerdasan spiritual. Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi pembangunan hati.
Karena itu, keluarga perlu melakukan turnaround spiritual dengan menjadikan rumah sebagai madrasah akhlak. Lembaga pendidikan perlu melakukan turnaround dengan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat kepada Allah. Masjid perlu melakukan turnaround dengan menjadi pusat pembentukan karakter umat. Para pemimpin perlu melakukan turnaround dengan memandang jabatan sebagai amanah, bukan fasilitas.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi bangsa yang memiliki arah moral dan spiritual yang jelas. Sebab sejarah membuktikan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan nilai.
Pada akhirnya, kehidupan manusia adalah perjalanan dari satu kesaksian menuju kesaksian berikutnya. Dimulai dengan jawaban “Qalu Bala” ketika Allah bertanya “Alastu bi Rabbikum”, dan berakhir dengan pertanggung jawaban di hadapan-Nya kelak.
Karena itu, yang perlu dibalik bukanlah dunia, melainkan orientasi kita terhadap dunia. Dunia tetap di tangan, tetapi Allah tetap di hati.
Harta tetap dicari, tetapi akhirat tetap menjadi tujuan.
Jabatan tetap dijalani, tetapi amanah tetap dijaga.
Sebab keberhasilan sejati bukanlah ketika manusia mampu menguasai dunia, melainkan ketika dunia tidak mampu menguasai dirinya.
Inilah hakikat turnaround spiritual: kembali kepada Allah, berjalan di atas petunjuk-Nya, dan menjadikan akhirat sebagai kompas dalam setiap langkah kehidupan.Naskah ini cocok dimuat sebagai artikel opini pada media keislaman, buletin Jumat, majalah masjid, atau kolom refleksi dengan judul besar: “Turnaround Spiritual: Ketika Dunia Menjadi Sarana, Bukan Tujuan.”ds.05062026.











